Insyha Allah Bermanfaat

Featured

Mengapa Orang Victoria Senang Berpose Di Samping Tanaman Aspidistra? 🌱

Aspidistra - Tanaman pot sudah menjadi bagian dari rumah tangga selama ribuan tahun. Orang Mesir kuno, Yunani, dan Romawi semuanya memelih...

Berfikir Kritis dan Berdemokrasi (Materi PAI XII)

Berfikir Kritis dan Berdemokrasi (Materi PAI XII)


Setiap orang berhak memberi penilaian dan kritik terhadap seseorang. Kritik boleh ditujukan kepada siapa saja. Orang boleh mengkritik kebijakan yang tidak sesuai dengan asas kemaslahatan. Baik itu kritik ke presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, bupati, kepala sekolah, dan guru. Namun, kritik hendaknya disampaikan dengan cara-cara yang beradab, bukan menghakimi pribadi seseorang, apalagi sampai menyinggung sisi-sisi kemanusiaannya.


Hanya saja, ada pula orang yang terlebih dulu bersikap apriori, berpikir negatif, dan berpendapat bahwa kritik adalah bentuk ekspresi kebencian. Kritik itu lahir sebagai bahan evaluasi. Kritik lahir sebagai apresiaasi dengan analisis yang logis dan argumentatif untuk menafsirkan sesuatu. Dalam perpolitikan, misalnya, politik hadir sebagai bahan masukan dan pelajaran untuk pembaruan kebijakan.Berbeda dengan mengkritik karya atau kebijakan seseorang hanya karena ada kebencian.


Musyawarah merupakan nilai-nilai kearifan untuk menyelesaikan masalah maupun memecah kebuntuan yang sudah dipraktikkan sejak zaman dulu. Dalam Islam musyawarah sudah diajarkan semenjak masa hidup Rasulullah Saw. dan diwariskan kepada penerusnya. Begitupun ketika Islam masuk ke Indonesia, musyawarah telah diadopsi dalam perbendaharaan perpolitikan Indonesia jauhjauh hari sebelum orang Indonesia akrab dengan kata demokrasi. Hal itu tampak dalam potongan kalimat “permusyawaratan dan perwakilan” yang berada pada sila ke-4 Pancasila.


Ayat–ayat berikut ini berisi pesan-pesan mulia tentang berpikir kritis (tafakkur), dan demokrasi (syura/musyawarah)


اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ


Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (QS. Ali 'Imran ayat 190)


الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (QS. Ali 'Imran ayat 191)


Dalam ayat al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk menggunakan akal, merenung dan memikirkan atas penciptaan Allah baik yang ada di langit dan bumi maupun di antaranya. Di antara ayat Al-Quran yang menerangkan tentang hal tersebut yaitu Q.S. Ali Imran Ayat 190-191.


Pada Q.S. Ali Imran Ayat 190 dijelaskan bahwa tatanan langit dan bumi serta dalam bergantinya siang dan malam secara teratur sepanjang tahun menunjukkan keagungan Tuhan, kehebatan pengetahuan dan kekuasaan-Nya. Langit dan bumi dijadikan oleh Allah bertingkat dengan sangat tertib, bukan hanya semata dijadikan, tetapi setiap saat tampak hidup, semua bergerak menurut orbitnya.


Bergantinya malam dan siang, berpengaruh besar pada kehidupan manusia dan segala yang bernyawa. Terkadang malam terasa panjang atau sebaliknya. Musim pun yang berbeda. Musim dingin, panas, gugur, dan semi, juga musim hujan dan panas. Semua itu menjadi tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah Swt bagi orang yang berpikir. Hal tersebut tidaklah terjadi dengan sendirinya Pasti ada yang mengaturnya yaitu Allah Swt.


Sementara itu Q.S. Ali Imran Ayat 191 memberikan penjelasan pada orang-orang yang cerdas dan berpikir tajam (Ulul Albab), yaitu orang yang berakal, selalu menggunakan pikirannya, mengambil ibrah, hidayah, dan menggambarkan keagungan Allah. Ia selalu mengingat Allah (berdzikir) di dalam keadaan apapun, baik di waktu ia berdiri, duduk atau berbaring. Ayat ini menjelaskan bahwa ulul albab ialah orang-orang baik lelaki maupun perempuan yang terus menerus mengingat Allah dengan ucapan atau hati dalam seluruh situasi dan kondisi.


Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa objek dzikir adalah Allah, sedangkan objek pikir ciptaan Allah berupa fenomena alam. Ini berarti pendekatan kepada Allah lebih banyak didasarkan atas hati. sedang pengenalan alam raya didasarkan pada penggunaan akal, yakni berpikir. Akal memiliki kemerdekaan yang luas untuk memikirkan fenomena alam, tetapi ia memiliki keterbatasan dalam memikirkan atas kekuasaan Allah Swt.


Secara singkat Q.S. Ali Imran Ayat 159 menyebutkan secara berurutan untuk dilakukan sebelum bermusyawarah, yaitu sebagai berikut

  1. Bersikap lemah lembut. Orang yang melakukan musyawarah harus menghindari tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala, supaya mitra musyawarah tidak pergi menghindar.
  2. Memberi maaf dan bersedia membuka diri. Kecerahan pikiran hanya dapat hadir bersamaan dengan sirnanya kekerasan hati serta kedengkian dan dendam.
  3. Memohon ampunan Allah Swt. sebagai pengiring dalam bertekad, kemudian bertawakal kepada-Nya atas keputusan yang dicapai yang diharapkan dari musyawarah adalah mufakat untuk kebenaran karena dalam bermusyawarah, kadang terjadi perselisihan pendapat atau perbedaan.
  4. Dalam menghadapi semua masalah orang yang bermusyawarah harus bersikap lemah lembut, melalui jalur musyawarah untuk mufakat, tidak boleh dilakukan dengan hati yang kasar dan perilaku kekerasan.
  5. Mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan setiap urusan.
  6. Apabila telah dicapai suatu kesepakatan, semua pihak harus menerima dan bertawakal (menyerahkan diri dan segala urusan) kepada Allah Swt. Dan Allah mencintai hamba-hambanya yang bertawakkal


Demokrasi dan Musyawarah

Konsep demokrasi pada hakekatnya sama hampir dengan konsep musyawarah dalam Islam. Namun, terdapat beber apa perbedaan diantara keduanya yang menyebabkan sebagian masyarakat masih belum dapat menerima konsep demokrasi. Ada dua hal yang mendasari perbedaan tersebut, di antaranya: (1) demokrasi berasal dari negara Barat, sedangkan musyawarah dalam Islam berasal dari negara timur; (2) pengambilan keputusan dalam sistem demokrasi lebih menekankan pada suara terbanyak, sedangkan keputusan musyawarah diambil berdasarkan kesepakan dan kesepahaman bersama walaupun pendapat berasal dari sekelompok tokoh masyarakat. 


Namun terlepas dari dua pemahaman tersebut, demokrasi dan musyawarah memiliki tujuan yang sama yaitu menghasilkan keputusan yang dapat diterima oleh setiap kalangan mayoritas dan kalangan minoritas. Musyawarah dan demokrasi merupakan dua metoda penyelesaian masalah dalam kehidupan dunia yang mengalami perbedaan bahkan sangat berlawanan. Musyawarah menghasilkan suatu keputusan yang disebut mufakat. Sedangkan, demokrasi menghasilkan suatu keputusan yang disebut penetapan pihak yang memenangkan atas dasar pemilihan.


Seementara itu mufakat sebagai hasil keputusan musyawarah merupakan hasil terbaik dari berbagai perbedaan dan kehendak dalam pemecahan masalah yang disepakati dan ditetapkan secara bersama terhadap suatu persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara. Demokrasi merupakan nilai dari Islam, yang memiliki makna dan hubungan yang erat.


Makna yang terkandung dalam musyawarah adalah sebagai berikut:

  1. Setiap manusia memiliki kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama
  2. Setiap orang tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain
  3. Setiap orang mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama
  4. Setiap orang menghormati dan menjunjung tinggi keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah
  5. Setiap orang mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi atau golongan
  6. Setiap orang memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan permusyawaratan


Menerapkan Prinsip Berpikir Kritis dan Berdemokrasi secara Islam

Islam sangat menghargai manusia yang berpikir kritis. Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak pengulangan kata yang berakar kata aql, fikr, fiqh, dzikr, yang menginspirasi untuk mengembangkan pemikiran pemikirannya. Semangat ini mendorong ilmuan Islam untuk mencurahkan gagasan dan pikiran sehingga melahirkan ilmu-ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat manusia di dunia.


Secara Islami berpikir kritis bukan berarti berpikir bebas yang tak terbatas karena kemampuan akal pikiran manusia memiliki keterbatasan. Oleh sebab itu hasil pemikiran sekaligus kebenaran berpikir yang dilakukan manusia bersifat relatif. Sementara itu kebenaran yang mutlak dan pasti hanyalah milik Allah Swt.


Oleh karena itu, ada kalimat yang masyhur di kalangan ulama fiqh, dan hampir semua imam mazhab pernah mengatakan kalimat ini, yaitu: “Pendapatku benar, tapi bisa saja salah. Pendapat selainku itu salah tapi bisa jadi benar”


Semua imam mazhab mengklaim bahwa pendapatnya itu ialah yang benar namun dengan kerendahan hati mereka mengatakan bahwa pendapatnya itu benar dengan kemungkinan adanya kesalahan, akan tetapi pendapat yang lain salah dengan kemungkinan adanya kebenaran di dalamnya.


Pernyataan para imam tentang kebenaran pendapat mazhabnya merupakan bentuk pertanggungjawaban atas apa yang telah mereka lakukan, dan bukan berarti menunjukkan kesombongan mereka. Dalam arti kata bahwa hasil pemikiran para imam mazhab itu dapat dipertanggungjawabkan karena telah melalui tahap pengujian berulangulang dan konsisten.


Sikap para imam mazhab dengan mempertahankan dan mempertanggungjawabkan kebenaran pendapat kelompoknya di satu sisi, sedangkan di sisi lain mengakui dan mengapresiasi pendapat kelompok yang lain merupakan cermin ajaran Islam yang sudah lama mempraktikkan nilai-nilai demokrasi. Istilah demokrasi memang baru dikenal dalam dunia Islam akan tetapi praktek demokrasi sudah dilakukan umat Islam semenjak berabad-abad silam. 


Di alam demokrasi, setiap orang boleh mengemukakan pendapat berdasarkan nalar kritisnya. Dengan catatan bahwa berpikir kritis sangat dianjurkan tapi memaksakan pendapat dan mencemooh pikiran pihak lain sangat dihindarkan.


Manfaat Berpikir Kritis

Pertama, berpikir kritis memiliki banyak solusi jawaban ide kreatif. Membiasakan diri berpikir kritis akan melatih siswa memiliki kemampuan untuk berpikir rasional. Berpikir dan bertindak reflektif adalah tindakan dan pikiran yang tidak direncanakan, terjadi secara spontan, serta melakukan hal-hal lain tanpa perlu secara ulang. Terbiasa berpikir kritis juga akan berdampak pada siswa memiliki banyak solutif dari jawaban serta ide-ide cerdas, jika siswa mempunyai suatu masalah, tidak hanya terpaku pada satu jalan solusi atau penyelesaian, siswa akan memiliki banyak opsi atau pilihan penyelesaian masalah tersebut. Berpikir kritis akan membuat siswa memiliki banyak ide-ide cerdas dan inovatif serta out of the box


Kedua, dengan berpikir kritis mudah memahami pemikiran orang lain. Berpikir kritis membuat pikiran lebih fleksibel, tidak kaku dalam mengutarakan pendapat atau pemikiran ide-ide dari yang lain, lebih mudah untuk menerima pendapat orang lain yang memiliki persepsi yang berbeda dengan diri sendiri. Hal ini memang tidak mudah untuk dilakukan, namun jika telah terbiasa untuk berpikir kritis, maka dengan sendirinya, secara spontanitas, hal ini akan mudah untuk dilakukan. Keuntungan lain dari memiliki pikiran yang lebih fleksibel dari berpikir kritis akan lebih mudah memahami sudut pandang orang lain. Tidak terlalu terpaku pada pendapat diri sendiri, dan lebih terbuka terhadap pemikiran, ide, atau pendapat orang lain.


Ketiga, dengan berpikir kritis dapat memperbanyak kawan dan rekan sejawat yang baik. Ada lebih banyak manfaat yang bisa diperoleh karena berpikir kritis, dan proses itu pada umumnya saling berkaitan. Misalnya saja lebih terbuka, menerima, serta tidak kaku dalam menerima pendapat orang lain, akan dihormati oleh teman-teman kerja, karena mau dan mengerti pendapat orang lain dengan pikiran terbuka.


Keempat, dengan berpikir kritis akan lebih mandiri. Mampu berpendapat secara mandiri, artinya tidak harus selalu mengistimewakan orang lain. Pada saat dihadapkan pada situasi yang rumit dan sulit serta harus segera mengambil keputusan, orang yang berpikir kritis tidak perlu menunggu orang lain yang mampu menyelesaikan masalah. Dengan memiliki pikiran yang kritis, seseorang akan dapat memunculkan ide-ide, gagasan, serta solusi penyelesaian masalah yang baik, melatih berfikir tajam, cerdas, serta inovatif.


Kelima, orang yang berpikir kritis sering menemukan peluang dan kesempatan baru dalam segala hal, bisa dalam pendidikan, pekerjaan atau bisnis atau usaha. Tentu saja hal ini akan berdampak pada kewaspadaan diri sendiri. Untuk menemukan peluang dibutuhkan pikiran yang tajam serta mampu menganalisa peluang yang ada pada suatu keadaan.


Manfaat Berdemokrasi secara Islami

  1. Kita tidak boleh berkeras hati dan bertindak kasar dalam menyelesaikan suatu permasalahan, tetapi harus bertindak dengan hati yang lemah lembut.
  2. Kita harus berlapang dada, berperilaku lemah lembut, bersikap pemaaf dan berharap ampunan Allah Swt.
  3. Dalam kehidupan sehari-hari kita harus mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan setiap persoalan.
  4. Apabila telah tercapai mufakat, kita harus menerima dan melaksanakan keputusan musyawarah.
  5. Kita selalu berserah diri kepada Allah Swt sehingga tercapai keseimbangan antara ikhtiar dan berdoa

Berfikir kritis dan berdemokrasi


Membentuk Pribadi Muslim yang Taat, Kompetitif, dan Beretos Kerja Unggul

Membentuk Pribadi Muslim yang Taat, Kompetitif, dan Beretos Kerja Unggul

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلً


Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah ( Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah-nya), jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (Q.S. an-Nisā’/4: 59).


Asbabunnuzul

Imam al-Bukhari meriwayatkan bertalian dengan turunnya Q.S. an-Nisa/4:59 ini, yakni terkait dengan penolakan para prajurit untuk masuk ke dalam api atas perintah Abdullah bin Hudzafah bin Qais, selaku komandan dalam suatu sariyah (perang yang tak diikuti Nabi). Mereka kemudian mengadu kepada Nabi Saw. tentang batasan taat kepada ulil amri, maka turun ayat ini, sebagai jawaban atas problema yang mereka hadapi.


Tafsir Ayat

  1. Ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya, yakni perintah kepada orang beriman, agar taat kepada perintah Allah Swt. dan Rasul, serta kepada ulil amri dalam menyelesaikan problema yang dihadapi berdasarkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits.
  2. Mentaati perintah Rasulullah Saw, baik perintah mengamalkan maupun meninggalkan larangan, karena merupakan perwujudan dari perintah Allah Swt.
  3. Mematuhi juga aturan atau ketentuan yang ditetapkan oleh ulil amri, yaitu: Orang-orang yang memegang kekuasaan di antara kamu atau mereka yang berwenang menangani urusan kamu, dengan catatan ketaatan kepada ulil amri tersebut tidak menyalahi aturan Allah Swt. dan Rasul-Nya.
  4. Ketaatan itu meliputi taat kepada Allah Swt. Rasul, dan kepada ulil amri. Ketiga ketaatan itu, tidak perlu dipertentangkan, tetapi dicari titik temunya, asalkan tidak menyalahi prinsip dan aturan yang ada.
  5. Jika terdapat masalah yang diperselisihkan dan tidak ada kata sepakat, disebabkan tidak ada petunjuk yang jelas di dalam Al-Qur’an dan Hadits, maka penyelesaiannya dikembalikan kepada nilai-nilai dan jiwa Al-Qur’an dan Hadits dengan menggunakan Ijtihad.


Taat di antara disiplin dan beragama yang baik

Taat menjadi faktor penting dalam mewujudkan disiplin, baik terhadap diri sendiri, keluarga, organisasi, masyarakat, bahkan dalam lingkup yang paling besar, yakni negara atau sebuah ummat. Sebab itu, kata tha’ah diulang ratusan kali di dalam Al-Qur’an, di antaranya adalah:


وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا


Artinya: Katakanlah: Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kami berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang kafi r (Q.S. Ali Imrān/3: 32).


Kata tha’ah, identik dengan kebaikan. Sebab, istilah ini biasa dihubungkan oleh kebanyakan masyarakat, sebagai bukti baiknya keberagamaan seseorang. Semakin beragama, semestinya semakin kuat ketaatannya. Jika kita temukan kebalikannya dalam kenyataan keseharian, berarti orang itu belum benar keberagamaannya, atau beragamanya belum utuh dan masih sepotong-potong.


Islam menggariskan bahwa ketaatan sangat terkait dengan dasar, landasan, atau motif seseorang. Boleh jadi, ada seseorang berbuat benar di jalan Allah Swt., namun jika memiliki motif atau niat lain, selain tertuju kepada-Nya, maka itu tidak dinamakan sebagai ketaatan. Firman Allah Swt.:


مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ


Artinya: Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah, dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka (Q.S. An-Nisā’/4: 80).


Jalan lurus itu lebar dan panjang, setiap orang beriman dapat menempuhnya, asalkan niat, praktik, dan tujuan akhirnya hanya tertuju kepada-Nya.


Itulah sebabnya, Islam memiliki pembahasan khusus perihal ketaatan, bahkan menempatkan perkara ini sebagai hal yang paling fundamental dalam tatanan kehidupan muslim. Benar tidaknya sebuah ketaatan, sangat tergantung dari kebenaran dan kemurnian akidah seorang muslim.


Ketaatan yang benar adalah ketaatan yang dilandasi hanya karena Allah Swt. semata. Berdasarkan landasan ini, bisa jadi ada seorang karyawan yang taat kepada pimpinan, namun jika ketaatan itu tidak didasari karena Allah Swt., maka itu tidak dinilai sebagai bentuk ketaatan.


Taat kepada Ulil Amri

Setiap orang beriman harus menaati Allah Swt., Rasulullah Saw., dan kepada para pemegang kekuasaan (ulil amri) demi terciptanya kemaslahatan bersama. Semua itu agar tercapai kesempurnaan pelaksanaan amanat dan hukum yang seadil-adilnya, baik dalam urusan dan kepentingan duniawi maupun akhirat.


Hanya yang perlu ditekankan, mematuhi ketentuan yang ditetapkan oleh ulil amri itu, jika sudah ada kesepakatan dalam satu hal melalui jalan musyawarah dan mekanisme yang demokratis. Bila sudah sampai pada tahap tersebut, kaum muslim berkewajiban mematuhinya, dengan syarat ketetapannya tidak bertentangan dengan aturan Allah Swt., dan Rasul-Nya.


Kenapa perlu juga taat kepada ulil amri? Jawabannya karena ajaran agama sendiri menyatakan bahwa kamu lebih mengetahui urusan duniamu. Artinya, banyak aturan dan ketentuan hidup yang belum diatur secara rinci oleh agama, dan itulah peran penting dari ulil amri untuk membuat aturan yang belum diatur oleh agama, tentu setelah melalui mekanisme dan cara-cara yang demokratis.


Berpijak pada prinsip tersebut, aturan Allah Swt. diletakkan pada posisi tertinggi, setelah itu aturan Rasul-Nya, selanjutnya aturan yang disusun oleh ulil amri (pemerintah/ pemimpin). Meski, sekali lagi ketaatan kepada pemimpin atau pemerintah atau pihak lain itu, harus sejalan pula dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Sabda Rasulullah Saw.:


Dari Abdullah bin Umar r.a. Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda : Mendengar dan taat itu, wajib bagi seorang muslim terlepas ia suka dan benci, selama ia tidak diperintah berbuat maksiat; jika diperintah untuk maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” (H.R. al-Bukhari)


Isi dan kandungan Hadits tersebut, Islam memberi garis yang jelas bahwa seseorang boleh saja taat kepada siapa saja, asalkan ketaatan itu tidak menyimpang dari aturan Allah dan Rasul-Nya. Misalnya, menaati aturan berlalu lintas, aturan di sekolah, berbakti kepada kedua orang tua, dan patuh kepada pimpinan di lingkungan kerja.


Sejalan dengan itu, perlu ketegasan dalam menolak (dengan tetap menggunakan mekanisme yang berlaku dan adab kesopanan, sebaliknya menghindari cara-cara kekerasan dan berbuat anarkis), jika dalam realitasnya bertentangan dengan aturan agama.


Sumber: Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (Kementrian Agama RI Tahun 2019). Kurikulum 2013




Meraih Kedamaian dengan Mujahadah An-nafs dan Husnuzhan

Meraih Kedamaian dengan Mujahadah An-nafs dan Husnuzhan

Al-Qur’an menegaskan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Setan selalu menggoda manusia agar terjerumus ke dalam perbuatan dosa hingga masuk ke neraka. Kita harus berlindung kepada Allah Swt. dari godaan setan, yakni dengan membaca ta’awudz. Selain setan, manusia juga digoda oleh nafsu ammarah untuk melakukan perbuatan melanggar syariat Allah Swt. Seseorang yang perilakunya dikendalikan oleh nafsu ammarah akan hidup sengsara di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang beriman untuk mengendalikan dan menahan hawa nafsu supaya hidupnya diridhai Allah Swt.


Perilaku kontrol diri (mujahadah an-Nafs) akan menjadikan seseorang hidup damai di masyarakat. Kedamaian di masyarakat akan semakin kokoh jika dibarengi dengan sikap selalu berprasangka baik (husnuzhan) kepada sesama, serta menjaga semangat persaudaraan (ukhuwwah). Tentunya setiap orang ingin hidup berdampingan secara damai. Sebagai makhluk sosial, manusia akan selalu membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, perilaku mulia ini perlu dijaga dengan sebaik-baiknya demi meraih kedamaian hidup di masyarakat.


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (Q.S. al-Hujurat/49: 12)


Asbabunnuzul Q.S. al-Hujurat/49: 12

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij, bahwa ayat ini (al-Hujurat/49: 12) turun berkenaan dengan Salman al-Farisi yang bila selesai makan, suka tidur sambil mendengkur. Pada waktu itu ada orang yang menggunjing perbuatannya. Maka turunlah ayat ini (alHujurat/49: 12) yang melarang seseorang mengumpat dan menceritakan 'aib orang lain.


Menelaah Tafsir Q.S. al-Hujurat/49: 12

Dalam Q.S. al-Hujurat/49:12 terkandung larangan untuk berprasangka buruk (su’uzhan) kepada orang lain, berbuat tajassus, dan (ghibah). Tajassus berarti mencari-cari kesalahan orang lain, dan ghibah ber­arti menggunjing orang lain.


Prasangka buruk dilarang karena prasangka buruk adalah suatu sikap/budi bekerti yang tidak berdasar pada fakta yang tepat. Seperti tidak bijak ketika membaca berita di media yang memberitakan kejelekan orang lain. Padahal, kita diingatkan untuk menjauhi prasangka buruk dan mencari-cari kesalahan orang lain. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk menyibukkan dengan mencari kesalahan dan keburukan diri kita sendiri agar kita dapat berinstropeksi diri terhadap kekurangan kita. Tentu saja agar kita memperbaiki kekurangan dan kesalahan kita.


“Dari al-A’raj ia berkata; Abu Hurairah berkata; Satu warisan dari Nabi Saw., beliau bersabda: “Jauhilah oleh kalian prasangka, sebab prasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari 'aib orang lain, jangan pula saling menebar kebencian dan jadilah kalian orang-orang yang bersaudara.“ (H.R. Bukhari).


Selanjutnya, Rasulullah Saw. menjelaskan apa itu ghibah sebagaimana tercantum dalam hadis berikut ini :


“Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Nabi Saw. berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi Saw. ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya? Nabi Saw. menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”. (H.R. Muslim).


Hadis tersebut menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebut orang lain yang tidak hadir di hadapan penyebutnya dengan sesuatu yang tidak disenangi oleh yang bersangkutan. Dapat juga dikatakan bahwa ghibah adalah membicarakan dan menyebutkan kejelekan orang lain. Tentu tidak ada satu orang pun yang senang dibicarakan oleh orang lain.


Di antara penyebab utama prasangka buruk, mencari kesalahan orang lain, dan ghibah adalah adanya kebencian atau sakit hati terhadap orang tertentu. Oleh karena itu, perilaku ini harus dijauhi karena walaupun kejelekan tersebut memang sebuah kenyataan, tetapi hal ini sangat berbahaya dan bisa menjadi fitnah.


Fitnah adalah menyampaikan berita palsu (hoax) atau berita salah, tidak sesuai dengan kenyataan. Perbuatan fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Oleh karena itu, fitnah merupakan perbuatan keji yang harus dijauhi. Akibat buruk dari fitnah di antaranya adalah mencoreng nama baik seseorang, dan menyebabkan perpecahan satu orang dengan orang yang lain.


Jadi, pada dasarnya antara ghibah dan fitnah memiliki perbedaan, yaitu ghibah menyampaikan keburukan orang lain, dan keburukan tersebut memang kenyataan. Akan tetapi fitnah menyampaikan data atau berita palsu dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Keduanya merupakan perilaku tercela yang harus dijauhi.


Perbuatan buruk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggunjing dalam kehidupan sehari-hari sulit dihindari karena adanya penyakit hati dalam diri kita. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk mengontrol diri (mujahadah an-nafs) dari perbuatan dosa. Yaitu, mengontrol diri kita agar mencegah hawa nafsu untuk berprasangka buruk, agar tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan j tidak menggunjing orang lain.


Hawa nafsu memiliki kecenderungan untuk mencari berbagai macam kesenangan dengan tidak mempedulikan aturan agama. Jika kita menuruti hawa nafsu, sesungguhnya hati kita telah tertawan dan diperbudak oleh hawa nafsu itu. Jihad melawan hawa nafsu merupakan jihad yang besar. Mengapa demikian?. Hal ini dikarenakan jihad melawan nafsu, berarti jihad melawan keinginan terhadap hal-hal yang buruk dan menimbulkan bahaya bagi kemanusiaan. Bukankah menghindari sesuatu yang kita senangi jauh lebih berat daripada menghindari sesuatu yang kita benci?


Selain kontrol diri, seorang muslim hendaknya berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah Swt., diri sendiri, dan kepada sesama manusia.


1. Husnuzhan kepada Allah Swt.

Berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah, artinya bahwa Allah Swt. memiliki sifat Maha sempurna, Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Pengasih dan Penyayang kepada semua ciptaan-Nya.


Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Allah ta’ala berfirman: ”Aku sesuai persangkaan hamba-Ku, Aku bersamanya ketika mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku saat sendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun alaih)


Berdasarkan hadis di atas dapat disimpulkan bahwa jika seseorang berprasangka baik kepada Allah Swt., maka Allah Swt. juga akan berprasangka baik kepadanya.


a. Husnuzhan dalam bertaqwa kepada Allah Swt.

Bertaqwa pada Allah Swt. artinya melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi segala larangan-Nya. Husnuzhan dalam bertaqwa pada Allah Swt. artinya meyakini bahwa semua perintah Allah Swt. adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Begitu juga semua larangan-Nya pasti akan berakibat buruk apabila dilanggar.


b. Husnuzhan dalam berdoa Berdoa

merupakan permohonan atas segala yang diinginkan seseorang. Seorang muslim yang memahami Husnuzhan pada Allah Swt. dalam berdoa akan yakin bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah Swt., namun bila belum dikabulkan, maka ia akan berfikir inilah yang terbaik dan ia akan menerimanya dengan penuh keikhlasan.


c. Husnuzhan dalam berikhtiar dan bertawakal

Ikhtiar merupakan usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan hal yang dicita-citakan. Dalam berikhtiar sikap Husnuzhan kepada Allah Swt. harus dikembangkan, karena tidak semua ikhtiar yang dilakukan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, dalam berikhtiar harus selalu digandengkan dengan sikap tawakal yaitu menyerahkan hasil ikhtiarnya hanya kepada Allah Swt. semata, sehingga ketika ikhtiarnya berhasil maka ia akan bersyukur dan ketika gagal ia akan bersabar dengan tidak berputus asa.


2. Husnuzhan kepada orang lain

Husnuzhan kepada orang lain artinya seluruh ucapan, sikap dan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang akan diterima apa adanya tanpa diringi oleh prasangka atau dugaan-dugaan yang bersifat negatif.


“Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang dengan muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya.” (H.R. Tirmidzi)


Hadis tersebut menjelaskan seorang muslim harus menjaga lisannya. Ucapan kepada orang lain terutama sesama muslim, harus lemah lembut dan tidak mengandung kebohongan. Guna menghindari buruk sangka terhadap seseorang, Islam mengajarkan untuk melakukan tabayyun bila mendapat informasi negatif tentang seseorang, Islam sangat melarang umatnya untuk secara gegabah mempercayai apalagi merespon negatif sebuah informasi tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu.


3. Husnuzhan kepada diri sendiri

Seseorang yang berprasangka baik kepada diri sendiri, akan menyadari bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, seharusnya manusia senantiasa mensyukuri apapun yang sudah diberikan oleh Allah Swt. dan tidak perlu merasa rendah diri di hadapan orang lain. Boleh jadi kekurangan yang dimiliki oleh seseorang justru itulah kelebihan yang dimilikinya.


Hikmah perilaku kontrol diri (mujahadah an-nafs)

  1. meningkatnya sifat sabar, dengan tidak cepat memberikan reaksi terhadap permasalahan yang timbul
  2. dapat mencegah perilaku buruk atau negatif dari seseorang
  3. mendapatkan penilaian yang positif dari lingkungan
  4. terbinanya hubungan baik dalam berinteraksi sosial dengan sesama.

Hikmah perilaku berprasangka baik (husnuzhan)

  1. senantiasa bersikap optimis dalam menghadapi kehidupan
  2. terbentuknya sifat percaya diri dalam diri seseorang
  3. gigih, ulet, tangguh dalam melakukan ikhtiarnya, sehingga tidak mudah putua asa ketika menghadapi kegagalan
  4. rida terhadap takdir Allah Swt., karena tugas manusia hanya berusaha dan yang menentukan adalah Allah Swt.

Mujahadah An-nafs dan Husnuzhan



Gratis download presentasi PDF Materi PAI kelas X Meraih Kedamaian dengan Mujahadah An-nafs dan Husnuzan.


Lomatia Tasmanica Tanaman berusia 43.600 Tahun

Lomatia Tasmanica Tanaman berusia 43.600 Tahun

Lomatia Tasmanica, atau yang sering dikenal sebagai King's lomatia atau King's Holly, adalah tanaman yang tidak biasa. Tanaman ini menghasilkan bunga, namun tidak menghasilkan buah maupun biji. King's Holly berkembang biak dengan menjatuhkan cabang, dan membiarkan cabang yang jatuh berakar dan tumbuh menjadi tanaman baru.


Lomatia Tasmanica
Foto oleh Natalie Tapson


Tidak mengherankan, semua jenis Lomatia tasmanica yang ada, jumlahnya sampai 300 tanaman, biasanya tanaman ini bisa ditemukan dilahan sempit. Karena reproduksinya vegetatif, yaitu perkembangbiakan tanpa melalui perkawinan dengan cara menggunakan bagian tubuh induknya.. Tanaman ini telah mengkloning dirinya sendiri setidaknya selama 43.600 tahun, dan mungkin hingga 135.000 tahun. Hal ini menjadikan Lomatia tasmanica salah satu tumbuhan tertua yang masih hidup dengan cara kloning.


Lomatia tasmanica pertama kali ditemukan pada tahun 1934 oleh seorang pria berdarah Australia bernama Charles Range saat sedang menambang timah di kaki pegunungan Bathurst Range, Barat daya Tasmania. Karena dirinya adalah seoarang naturalis, Charles langsung mampu mengenali spesies tanaman tersebut dari genus Lomatia. Namun dia tidak menyadari bahwa itu adalah spesies baru, dia juga tidak menduga usianya yang luar biasa.


Pada tahun 1965 Charles menemukan populasi lain dari spesies yang sama sekitar 5 km dari yang pertama. sayangnya, kelompok tanaman asli telah mati. kali ini Charles mengirim stek tanaman ke ahli botani Winifred Curtis dari Universitas Tasmania untuk diidentifikasi. Curtis dapat mengkonfirmasi bahwa itu memang spesies baru Lomatia dan akhirnya dinamai Lomatia Tasmanica.


Pertumbuhan King's holly sangat lambat. Dendrochronology menyebutkan satu batang berumur 240 tahun, yang menandakan tingkat pertumbuhan hanya 0,26 mm per tahun. Pada kecepatan glasial ini, tanaman seperti itu dapat bertahan di lokasi terbatas selama beberapa ratus atau ribuan tahun. Memang, penanggalan karbon dari fragmen daun fosil menghasilkan penanggalan 43.600 tahun. Begitulah lamanya tanaman mengkloning dirinya sendiri, meskipun umur masing-masing tanaman hanya sekitar 300 tahun.


Lomatia tasmanica terancam punah. Hanya ada satu kelompok tumbuhan yang tersisa yang tersebar di sekitar 1,2 kilometer bentang alam. Daerah ini rentan terhadap kebakaran dan ancaman alam lainnya, sehingga mulai tahun 1990-an, Tasmania memulai upaya untuk mengembangkan populasi Lomatia lainnya di lingkungan yang terkendali. Tetapi upaya untuk membudidayakan tanaman itu sebagian besar gagal.

Foto oleh Natalie Tapson



Kerapuhan Lomatia tasmanica mengejutkan karena telah menyebar selama ribuan tahun. Tapson dan rekan-rekan ahli botaninya sekarang mencoba mencangkokkan tanaman Kings Holly ke akar spesies tanaman yang sama. Tapson berkata, “Dengan meletakkannya di batang akar yang berbeda, diharapkan saat Anda menanamnya atau memindahkannya, Anda tidak akan kehilangan itu karena akarnya lebih kuat.” King's holly sangat halus sehingga spesimen tanaman di Royal Tasmanian Botanical Gardens tidak dipajang untuk umum.
Bermartabat Dengan Busana Muslim (Materi Kelas X)

Bermartabat Dengan Busana Muslim (Materi Kelas X)

Pengertian Busana muslim - Busana muslim adalah busana atau pakaian yang seharusnya dikenakan oleh umat Islam, baik itu wanita (muslimah) ataupun laki-laki (muslim) dalam setiap aktivitas sehari-hari, baik kegiatan resmi maupun santai, seperti rekreasi, jalan sehat, aktivitifas sehari-hari. Artinya bahwa selama ini ada anggapan bahwa busana muslim hanya dipakai ketika menghadiri majelis taklim, majelis zikir, hari besar keagamaan, seperti Idulfitri, Iduladha, memperingati hari-hari besar Islam atau ketika pergi ke masjid atau mushala.


Adapun syarat busana atau berpakaian muslim adalah sebagai berikut


Menutupi aurat

Aurat secara makna adalah bagian tubuh yang haram dilihat, karena itu harus ditutupi. Menurut Islam, aurat bagi wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan berdasar pada firman Allah Q.S. al-Ahzab/33:59 yang artinya:


“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”


Kata “mengulurkan” dalam ayat ini, ditafsirkan dengan menutupi seluruh tubuh. Jilbab dapat diartikan sebagai selendang yang menutupi kepala sampai leher dan dada.


Pakaian yang tidak mengundang syahwat

Busana atau pakaian yang dikenakan boleh sebagai hiasan, tetapi bukan sebagai alat mengundang perhatian lawan jenis. Jadi, hakikat berbusana adalah menutup aurat dan melindungi seseorang dari cuaca panas dan dingin meskipun tidak melupakan unsur keindahan.


Tidak transparan

Bahan yang dipakai berbusana adalah tidak boleh transparan atau tembus pandang karena fungsi berpakaian dalam Islam adalah untuk menutup aurat. Rasulullah Saw. bersabda, yang artinya: “Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat: satu kaum mencambuk orang-orang dengan cambuk seperti ekor sapi, dan satu golongan kaum wanita yang berpakaian, tetapi telanjang, memberitahukan (memperlihatkan) kepada orang lain perilaku mereka yang tercela, menyimpang dari ketaatan kepada Allah, serta dari apa yang wajib mereka jaga, rambut mereka itu laksana punuk unta yang berjalan miring. Mereka tidak masuk surga dan tidak akan mencium aromanya, padahal semerbak surga bisa tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian” (H.R. Muslim)


Harus longgar dan tidak ketat sehingga tidak memperlihatkan lekukan tubuh yang ditutupi. Sebagaimana penjelasan hadis berikut ini. Rasulullah Saw. memberiku baju Quthbiyyah yang tipis, hadiah dari Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan kepada istriku. Nabi Saw bertanya kepadaku: Mengapa kamu tidak mengenakan baju Quthbiyyah?” Aku menjawab: “Aku pakaikan baju itu untuk istriku.” Nabi Saw lalu bersabda: “Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Quthbiyyah itu, karena aku khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tubuhnya.” (H.R. al-Baihaqi, Ahmad, Abu Dawud dan Adh-Dhiya)


Tidak diberi wewangian atau parfum yang baunya sangat mencolok, khususnya bagi wanita, karena perbuatan tersebut dapat mengundang perhatian


Tidak menyerupai laki-laki atau sebaliknya Busana atau pakaian serta hiasan yang dikenakan oleh laki-laki tidak menyerupai pakaian atau hiasan yang biasa dikenakan oleh wanita. Begitu juga sebaliknya, wanita tidak boleh menyerupai pakaian dan hiasan yang dipakai laki-laki.


Bukan busana atau pakaian syuhrah

Pakaian syuhrah merupakain pakaian yang dikenakan dalam rangka untuk mencari sensasi sehingga tenar dan pemakainya dikenal orang.


Bukan untuk tabarruj Tabarruj adalah memperlihatkan hiasan dan keindahan dirinya, serta apapun yang wajib ditutupi agar tidak mengundang fitnah.


Bukan kain sutra bagi laki-laki

Telah ditetapkan dalam hadis Nabi Muhammad Saw. bahwasanya untuk laki-laki haram hukumnya memakai pakaian dari kain sutra.


“Boleh bagi wanita dari umatku dan haram bagi pria dari umatku.” (H.R. Tirmidzi, Nasa’i, dan Abu Dawud).


berbusana muslim materi agama


Mengambil Pelajaran dari Peradaban Islam (Materi PAI Kelas XI)

Mengambil Pelajaran dari Peradaban Islam (Materi PAI Kelas XI)

Peradaban Islam - Islam dimulai dari seorang diri, yakni Nabi Muhammad Saw. Lalu atas keberhasilan dakwah yang dilakukan oleh beliau, baik pada periode Makkah maupun Madinah, Islam menyebar ke seluruh Jazirah Arab, selajutnya Islam berkembang dengan pesat ke penjuru dunia atas peran para sahabat dan generasi sesudahnya.


Sekitar tahun 610 M, risalah Islam dimulai yang merupakan kelanjutan dan penyempurna dari risalah sebelumnya, yakni saat Muhammad Saw. diangkat sebagai Rasul yang ditandai adanya penerimaan wahyu pertama, yakni: Q.S. al-‘Alaq/96: 1-5 yang diawali dengan kata iqra’ yang berarti bacalah.



Selanjutnya, Risalah Islam (dalam makna kepemimpinan, bukan kenabian) diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin, mulai Abu Bakar ash-Shiddiq (11-13 H), Umar bin Khattab (13-24 H), Utsman bin ‘A an (24-36 H) sampai Ali bin Thalib (36-41 H), semuanya terentang dalam kurun 11-41 H/633-660 M. Dilanjutkan oleh Daulah Umayyah (661- 750 M) dan Daulah Abbasiyah (750-1258 M).


Perkembangan Islam mencapai puncak kejayaan, terjadi di masa Khalifah Abdur Rahman ad-Dakhil (756 M-785 M) pada masa Daulah Umayyah, dan Khalifah Harun Ar-Rasyid (786 M-809 M) pada masa Daulah Abbasiyah, misalnya yang ditandai dengan pendirian Darul Hikmah atau Akademi Ilmu Pengetahuan pertama di dunia, yang terdiri dari perpustakaan, pusat pemerintahan, observatorium bintang, dan Universitas Darul Ulum.


Pada masa itu, hanya ada 2 (dua) negara superpower dunia atau memiliki keunggulan yang memengaruhi dunia, yakni: di Barat berkedudukan di Cordova (Spanyol) dan Timur berkedudukan di Baghdad (Irak). Kekuasaan Daulah Umayyah menguasai Damsyik (Syiria) tahun 629 M, Syam dan Irak tahun 637 M, Mesir sampai Maroko tahun 645 M, Persia tahun 646 M, Samarkand tahun 680 M, seluruh Andalusia (Spanyol) tahun 719 M, dan akhirnya tertahan di Poiteier pada tahun 732 M dalam usahanya memperluas pengaruhnya ke Prancis.


Kedua negara Islam itu (Cordova dan Baghdad), samasama negara yang berlandaskan ajaran Islam, mampu menjulang ke angkasa membawa kibar kebesaran, menorehkan tinta emas peradaban Islam, kemakmuran dan kesejahteraan, martabat Islam mampu mengungguli peradaban lain (negara Eropa Barat pada masa itu masih tenggelam dalam kegelapan yang dikenal dengan Dark Ages), sekaligus menyelesaikan berbagai problematika yang terjadi pada saat itu.


Belum pernah sejarah menorehkan reputasi seperti itu, terkecuali Islam. Disebabkan peran seperti itu, umat Islam pernah berjaya di bidang peradaban dan ilmu pengetahuan selama lebih kurang 7 abad (antara abad VII s.d. XIII). Kejayaan tersebut membuahkan pusat-pusat keunggulan baik di bidang pendidikan, peribadatan, perekonomian, pertanian, kedokteran, dan lain-lain.


Semua hasil yang dicapai umat Islam ketika itu tercatat dalam lembaran sejarah dunia sampai saat ini, dan jejak-jejaknya dapat dilihat dan dinikmati oleh umat lain, bahkan hasil yang dicapai bangsa Barat (Amerika Utara dan Eropa Barat saat ini), tidak lepas dari sumbangan besar umat Islam.


Faktor Pendorong Kemajuan Islam


Faktor Internal

1. Sejak abad ke-9 M, di negeri-negeri muslim telah tumbuh pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, misalnya Madinah, Makkah, Baghdad, Damaskus, Kufah, Cordova, dan Isfahan.


2. Umat Islam sangat konsisten dan istiqamah kepada Islam, sebagai hasil dari proses telaah dan kajian yang mendalam sehingga menemukan substansi Islam yang mendorong kemajuan dan menjadi umat yang terbaik.


3. Motivasi ajaran Islam agar umatnya unggul, maju, dan berkualitas dalam segala aspek kehidupan. Sebaliknya, menghindari martabat hidup yang tertinggal dan terpuruk, apalagi menjadi beban pihak lain.


4. Ajaran Islam yang membawa keseimbangan antara capaian lahir dan batin, serta kesuksesan duniawi dan ukhrawi.


5. Adanya kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat yang dijamin oleh aturan yang berlaku, meskipun ada juga yang berbeda dengan pendapat umum, tetapi tetap menghargai pendapat yang cerdas dan brilian.


6. Adanya khalifah, ‘amir, raja-raja muslim, menteri-menteri berpengaruh yang memberikan dorongan dengan dana berlimpah bagi perkembangan kemajuan Islam.


7. Misi Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam.


Faktor Eksternal

1. Adanya hubungan yang dinamis antara kebudayaan Arab (Islam) dengan kebudayaan lain yang telah maju sebelum datangnya ajaran Islam, misalnya Mesir, Babylonia, Yunani, India, dan Persia.

2. Terbongkarnya rahasia pembuatan kertas di China melalui para tawanan yang ditangkap di Samarkand, yang setelah dipelajari berulang-ulang, akhirnya orang-orang muslim pun mampu membuatnya, bahkan pabrik kertas di Baghdad menjadi pabrik kertas pertama terbesar di dunia Islam.

3. Berpindahnya para ilmuwan dari orang non-Arab (Persia, Yunani dll) ke Baghdad untuk menerjemahkan buku-buku ke dalam Bahasa Arab.

4. Penguasa (khalifah) memberikan peluang kepada orangorang non-Arab (kaum Mawali) untuk menduduki jabatanjabatan penting di pemerintahan.

5. Kemajuan ekonomi yang dibarengi dengan munculnya industri-industri dan perdagangan yang merambah ke berbagai wilayah, sehingga berakibat meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

6. Stabilitas politik dan keamanan yang kondusif.



Tumbuh dan Berkembang Beragam Ilmu


Filsafat Islam

Filsafat Islam adalah sistem berpikir tentang hakikat segala sesuatu berdasarkan ajaran Islam yang teruang di dalam al-Qur'an dan Hadits.


tujuan islam mengajarkan berpikir filsafat agar setiap muslim memiliki wawasan yang luas, menyeluruh, teratur dan terpadu. selalu bertanya dan dapat menghargai pendapat orang lain dan tidak cepat puas terhadap prestasi yang telah dibuat.


Sebagai induk ilmu pengetahuan, tentu filsafat memengaruhi ilmu-ilmu lain, sehingga semua ilmu membutuhkan cara berpikir filsafat, tidak terkecuali ilmu-ilmu ke-Islaman seperti Fiqh, Ilmu Tauhid, Tafsir dan lain-lain. Apalagi ajaran Islam lebih banyak bersifat global, yang tentunya membutuhkan pemikiran mendalam dan lebih terperinci, sekaligus memfungsikan akal pikiran dalam mencapai solusi problematika dunia.


Beberapa Tokoh Filsafat Islam (Filsuf) Ada 4 (empat) tokoh filsuf muslim yang sangat berjasa dalam pengembangan Filsafat Islam, yaitu: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd. Keempatnya berhasil menggabungkan gagasan Aristotelis dan Plato dengan gagasan-gagasan lainnya yang diperkenalkan melalui Islam dengan beragam karya yang disusunnya.


Selanjutnya, karya-karya mereka yang berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sehingga ikut membantu perkembangan filsafat Eropa modern. Hasil dari penerjemahan dan dialektika zaman memunculkan filsuf non-Muslim, misalnya Filsuf Yahudi bernama Moses Maimonides yang tinggal di Andalusia (Spanyol).


Ilmu Fiqh

Fiqh menurut bahasa berarti tahu dan faham, jadi maksudnya ilmu yang mempelajari aturan syariat Islam yang diperoleh dari dalil yang terperinci. Melalui ilmu ini terwujud sistem hukum yang lebih sistemik dan terperinci, di antaranya dihasilkan hukum yang 5 (lima), yaitu: wajib, sunnah, makruh, haram, dan mubah.


Manfaat Ilmu Fiqh antara lain Menuntun, membimbing, dan mengatur kehidupan manusia agar menjadi tertib dan teratur. Memudahkan manusia dalam menjalani kehidupan sehariharinya. Tercapainya pribadi muslim yang baik, lalu menyebar ke keluarga, yang pada akhirnya membuahkan tatanan masyarakat dan bangsa yang baik.



Beberapa Tokoh Ilmu Fiqh (Fuqaha’)

Imam Hanafi , nama lengkapnya adalah Abu Hanifah anNu’man bin Tsabit, rentang hidupnya dimulai tahun 70--150 H/699--767 M, dikenal dengan Mazhab Hanafi . Mazhab ini berpengaruh di wilayah Turki, Pakistan, Yordania, Libanon, dan Afghanistan.


Imam Malik, nama lengkapnya adalah Malik bin Anas alAshabi, rentang hidupnya dimulai tahun 93-179 H/715-795 M, dikenal dengan Mazhab Maliki. Mazhab ini berpengaruh di wilayah Maroko, Aljazair, Tunisia, Bagian Utara Mesir, Bahrain, dan Kuwait.


Imam Syafi’i, nama lengkapnya adalah Muhammad bin Idris asy-Syafi ’i, rentang hidupnya dimulai tahun 150-204 H/767--820 M, dikenal dengan Mazhab Syafi ’i. Mazhab ini berpengaruh di wilayah Bagian Selatan Mesir, Jazirah Arab, Palestina, Yordania, Syiria, Afrika Timur, Indonesia, dan Malaysia.


Imam Hambali, nama lengkapnya adalah Ahmad bin Hambal, rentang hidupnya dimulai tahun 164--241 H/780-855 M, dikenal dengan Mazhab Hambali. Mazhab ini berpengaruh di wilayah Saudi Arabia, Qatar, dan Oman.



Ilmu Tasawuf

Ilmu Tasawuf adalah  Ilmu yang membahas mengenai tata cara pencucian diri dari segala sifat tercela sehingga dapat berhubungan sedekat mungkin dengan Allah Swt.


Ajaran Islam yang berupaya melihat segala amal secara batin, isi, dan substansi. Tidak berhenti hanya di sisi lahir dan formal saja, tetapi ditelaah juga dari apa manfaat, faedah, hikmah, dan tujuan di balik amal ibadah yang dilakukan.


Banyak ilmuan yang mengakui peran besar ilmu tasawuf dalam perkembangan Islam di berbagai penjuru dunia. Tasawuf mengedepankan kasih sayang, toleransi, kerendahan hati, cinta dalam makna yang luas. Itulah sebabnya banyak orang tidak terkecuali non muslim, menyukai ajaran tasawuf. oleh setiap muslim.


Bagi yang ingin menempuh jalan tasawuf, harus menempuh latihan dan tahap-tahap tertentu yang dipandu dan dibimbing oleh mursyid (guru tasawuf), yaitu sebagai berikut:

a. Bertobat;

b. Tazkiyatun al-Nafs: upaya membersihkan hati dengan cara mengendalikan nafsu dan ego pribadi, agar dapat semakin dekat dengan Allah Swt.

c. Zuhud (menjauhi pengaruh dunia);

d. Wara’ (menghindari dari yang haram dan syubhat); dan

e. Sabar, tawakal, qana’ah dan ridha atas ketentuan Allah Swt.


Rabi’ah al-Adawiyah, Abu Yazid al-Busthami, Abdul Farid Zunnun al-Misri, al-Hallaj, dan Imam al-Ghazali. Sementara, tokoh tarekat yang terkenal yang jalan tarekatnya diikuti oleh banyak kalangan muslim, antara lain: Tarekat Qadiriyah yang didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Jailani, dan Tarekat Naqsabandiyah oleh Bahauddin Naqsabandi dari Bukhara (Asia Tengah) pada tahun 1390 M.



Ilmu Kedokteran

Embrio tentang ilmu kedokteran sudah diterapkan Rasulullah Saw. pada abad ke-7, misalnya konsep tentang karantina dengan memperingatkan supaya hati-hati ketika memasuki atau meninggalkan suatu daerah yang terkena wabah penyakit.


Sejak abad ke-10, dokter-dokter muslim sudah berinovasi dengan mengisolasi individu-individu penderita penyakit dan mengasingkannya ke arah utara. Sementara, fakultas kedokteran di dunia muslim, pertama kali didirikan oleh Jurjis ibnu Naubakht. Sedangkan konsep karantina yang dikembangkan di Venice, Italia pada tahun 1403 bukanlah yang pertama di dunia.


Ilmu Kedokteran adalah ilmu yang membahas tata cara memelihara tubuh agar tetap sehat dan berfungsi dengan baik, serta tata cara penanggulangan, pencegahan sekaligus penyembuhan penyakit dengan cara alkohol terapi atau cara lainnya.


Cara alkhol terapi tersebut dapat kita telaah dari dokterdokter muslim dan ahli bedahnya sejak abad ke-10, sudah menggunakan alkohol sebagai pencegah infeksi ketika membersihkan luka-luka. Jadi, pencegahan infeksi yang dilakukan oleh ahli bedah dari Inggris, seperti Joseph Lister pada tahun 1865 bukanlah yang pertama.



Ilmu Sejarah

Ilmu Sejarah adalah Ilmu yang mempelajari tentang berbagai peristiwa masa lampau yang meliputi waktu, tempat, pelaku, sebabsebabnya, yang disusun secara sistematik.


Beberapa Tokoh Sejarah: Ath-Thabari (839-923 M), Ibnu Qutaibah (828-889 M), Ibnu Khaldun (1332--1406 M), dan lain sebagainya.



Ilmu Geografi

Ilmu Geografi adalah Ilmu yang mempelajari perihal keadaan suatu daerah dengan segala ke khasannya. salah satu manfaat dari ilmu geografi kita dapat mengenal potensi sumber daya alam yang dapat dieksplorasi, sekaligus menggugah ketakjuban akan keagungan Sang Pencipta Allah Swt. yang wajib disyukuri. untuk kemaslahatan bersama.



Ilmu Kesenian

seni adalah ungkapan jiwa yang paling dalam sehingga menimbulkan suasana yang menyenangkan dan mencerahkan. Manfaatnya bisa memberikan semangat dalam kehidupan untuk mencapai suasana yang menyenangkan.


Baca juga: Pusat-pusat Peradaban Islam Pada Abad Pertengahan

 Makna Berimana Kepada Malaikat (Iman Kepada Malaikat PAI Kelas X)

Makna Berimana Kepada Malaikat (Iman Kepada Malaikat PAI Kelas X)

Iman Kepada Malaikat - Kualitas iman seseorang dapat dilihat dari sejauh mana ketaatannya kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Untuk dapat melaksanakan ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya dibutuhkan pemahaman terhadap ajaran Islam. Dari sini dapat dikatakan bahwa iman dan ilmu saling berkaitan dan mutlak adanya. Keimanan seseorang akan lebih mantap jika didasari dengan ilmu. Orang berilmu akan terhindar dari sifat sombong dan sifat tercela lainnya apabila ada iman di hatinya.


Keimanan akan menjadi energi pendorong untuk menuntut ilmu sehingga orang beriman dan berilmu menempati derajat tinggi dihadapan Allah Swt. Keimanan yang dibarengi dengan ilmu akan membuahkan amal saleh. Dari penjelasan itu dapat disimpulkan bahwa keimanan, ilmu dan amal saleh merupakan modal untuk mencapai kehidupan bahagia di dunia hingga akhirat.

Beriman kepada malaikat


Keimanan akan tumbuh dan berkembang bila syariat Islam dilaksanakan dengan sepenuh hati. Enam rukun iman, salah satunya adalah iman kepada malaikat-malaikat Allah Swt. harus diamalkan dengan sepenuhnya guna memperoleh kesempurnaan iman.


Makna Beriman kepada Malaikat

Kata malaikat berasal dari bahasa Arab malak, jamaknya malaa’ikah. Kata malak berasal dari akar kata ‘alk atau ‘aluka yang artinya ‘risalah atau mengemban amanat’. Iman kepada malaikat memiliki empat unsur, yaitu:


Mengimani wujud dan penciptaan malaikat

Malaikat merupakan makhluk Allah Swt yang berasal dari alam gaib, yang tercipta dari cahaya atau nur, seperti sabda Rasulullah Saw.


Dari Aisyah r.a. Berkata Rasulullah Saw. bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya) untuk kalian”. (H.R. Muslim)


Perihal wujudnya, al-Qur’an menjelaskan dalam Q.S. Fathir/35: 1 yang berbunyi:


الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلاً أُولِي أَجْنِحَةٍ مَّثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ -١- 


Artinya: ”Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”


Dengan sayap-sayapnya tersebut, setiap malaikat memiliki kecepatan gerak yang luar biasa. Firman Allah Swt. dalam Q.S. al Ma’arij/70: 4 menjelaskan:


تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ -٤- 


Artinya: “Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.”


Maksud dari ayat tersebut adalah bahwasanya para malaikat di antaranya malaikat Jibril apabila menghadap Allah Swt., ia memerlukan waktu satu hari, tetapi apabila yang melakukan manusia, maka diperlukan waktu selama lima puluh ribu tahun.


Antara malaikat dan manusia berbeda alam. Oleh karena itu, manusia tidak mampu menangkap wujud malaikat. Namun demikian, atas izin Allah Swt. malaikat dapat menjelma dalam sosok tertentu dan dapat dilihat oleh mereka yang dipilih oleh Allah Swt., yaitu para rasul, seperti dijelaskan dalam Q.S. Hud/11: 69-70 yang berbunyi:


وَلَقَدْ جَاءتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُـشْرَى قَالُواْ سَلاَماً قَالَ سَلاَمٌ فَمَا لَبِثَ أَن جَاء بِعِجْلٍ حَنِيذٍ -٦٩- فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لاَ تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُواْ لاَ تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ -٧٠- 


Artinya: “Dan para utusan Kami (para malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, “Selamat.” Dia (Ibrahim) menjawab, “Selamat (atas kamu).” Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.” (69). Maka ketika dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, dia (Ibrahim) mencurigai mereka, dan merasa takut kepada mereka. Mereka (malaikat) berkata, “Jangan takut, sesungguhnya kami diutus kepada kaum Lut.” (70)


Wujud malaikat tidak akan pernah berubah, tidak bertambah tua atau tidak bertambah muda. Kondisi malaikat sampai detik ini masih tetap sama, seperti ketika diciptakan oleh Allah Swt.


Mengimani semua malaikat

Dari sekian banyak malaikat, hanya sedikit sekali yang namanya disebutkan dalam al-Qur’an atau hadis. Setiap orang yang beriman diwajibkan untuk mengimani seluruh keberadaan malaikat, baik yang keberadaannya disebutkan maupun yang tidak disebutkan dalam alQur’an. Ada malaikat yang disebutkan dalam al-Qur’an atau hadis, orang yang beriman wajib mengimaninya secara rinci, dengan malaikat yang tidak disebutkan namanya, cukup mengimaninya secara umum.


إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلآئِكَةِ مُرْدِفِينَ -٩- 


Artinya: “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut."


Di antara sekian banyak malaikat, ada sepuluh nama yang dikenal, yaitu sebagai berikut.


Malaiakt Jibril

yaitu malaikat yang mengepalai seluruh malaikat. Nama lain malaikat Jibril adalah Ruhul Amin dan Ruhul Qudus. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul.


Malaikat Mikail

yaitu bertugas membagikan rezeki kepada seluruh makhluk ciptaan Allah Swt.


Malaikat Izrail

yaitu malaikat yang bertugas mencabut nyawa seluruh makhluk Allah Swt.


Malaikat Israfil

yaitu malaikat yang bertugas meniup sangkakala pada saat tiba hari kiamat dan menjelang manusia dibangkitkan dari alam kubur.


Malaikat Raqib

yaitu malaikat yang bertugas mencatat segala ucapan dan perbuatan baik manusia.


Malaikat Atid

yaitu malaikat yang bertugas mencatat segala ucapan dan perbuatan jahat manusia.


Malaikat Munkar dan Nakir

malaikat yang bertugas mengadili manusia di alam barzakh. Kedua malaikat tersebut menanyakan segala sepak terjang si mayat selama hidup di dunia.


Malaikat Ridwan

yaitu malaikat yang bertugas menjaga pintu surga tempat manusia menerima imbalan dari ketaatan dan ketaqwaannya pada Allah Swt.


Malaikat Malik

yaitu malaikat yang bertugas menjaga pintu neraka tempat manusia menerima imbalan dari kedurhakaannya pada Allah Swt.


Mengimani sifat-sifat malaikat

Malaika adalah salah satu ciptaan Allah SWT yang gaib, yaitu tidak bisa dijangkau oleh indera manusia dari semua sisi. Perihal sifat-sifatnya, malaikat merupakan hamba-Nya yang mulia, firman Allah Swt.


"Dan mereka berkata, “Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.” Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan." (Q.S. al-Anbiya/21: 26)


Dikatakan mulia, karena senantiasa tunduk dan patuh pada Allah Swt., taat pada apa yang diperintahkan-Nya, tak pernah durhaka sekalipun. Firman Allah Swt.


Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (Q.S. at-Tahrim/66: 6)


Juga setiap saat sepanjang waktu para malaikat selalu bersujud dan bertasbih pada Allah Swt.


Dan engkau (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat melingkar di sekeliling ‘Arsy, bertasbih sambil memuji Tuhannya; lalu diberikan keputusan di antara mereka (hamba-hamba Allah) secara adil dan dikatakan, “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (Q.S. az-Zumar/39: 75).


Sifat-sifat lain yang harus diyakini oleh orang yang beriman terkait sifatsifat malaikat adalah bahwa malaikat suci dari sifat-sifat jin dan manusia, seperti hawa nafsu, adanya rasa lapar, tidak makan dan minum, merasakan sakit, dan tidak tidur.


Mengimani tugas-tugas malaikat

Tugas-tugas yang diemban oleh para malaikat, menurut al-Qur’an, antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Membawa kebaikan dan menyebarkan rahmat dari Allah Swt.
  2. Menyampaikan wahyu kepara para nabi dan rasul
  3. Meneguhkan hati para nabi dan kaum mukmin
  4. Mendatangkan azab bagi umat yang zalim dan mengingkari ayat-ayatNya
  5. Menolong manusia dengan memintakan ampun kepada Allah Swt.
  6. Mencatat segala perbuatan manusia
  7. Membantu meningkatkan rohaniah manusia, baik di dunia maupun akhirat


Menjaga Kehormatan Diri Dengan Menjauhi Pergaulan Bebas dan Perbuatan Zina

Menjaga Kehormatan Diri Dengan Menjauhi Pergaulan Bebas dan Perbuatan Zina

Pergaulan bebas dan semua perbuatan yang dapat mengarah ke perzinaan dilarang oleh Islam. Perbuatan tercela ini akan mengakibatkan hancurnya kehidupan pribadi dan merusak tatanan kehidupan masyarakat. Lebih dari itu, pelakunya akan dikucilkan oleh masyarakat dan mendapat laknat dari Allah Swt. dan Rasul-Nya. Islam tidak melarang untuk bergaul dengan banyak orang, tetapi Islam menganjurkan untuk bergaul dengan teman dan sahabat yang berakhlak mulia.


Menurut Islam, pergaulan harus sesuai dengan nilai-nilai Islam serta tidak boleh melanggar norma dan etika. Islam membenci dan melarang pergaulan bebas, yaitu pergaulan yang tidak mempedulikan aturan agama, norma dan etika. Kemuliaan dan kehormatan diri harus dijaga dengan selalu berakhlak mulia. Lebih dari itu, kesempurnaan iman seseorang tercermin dari kesempurnaan akhlaknya.




Banyaknya kasus hamil di luar nikah dan kekerasan seksual terjadi karena lemahnya iman. Kasus-kasus kekerasan seksual juga dipicu oleh gaya berpakaian yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Banyak wanita berpakaian, tetapi seperti telanjang sehingga mengundang terjadinya kemaksiatan.


Islam mengajarkan umatnya agar berpakaian yang menutup aurat. Aurat harus dijaga sebaik-baiknya sebab jika aurat terbuka atau sengaja dibuka untuk dipamerkan berarti telah merendahkan diri sendiri. Oleh karena itu, mari kita berpakaian yang rapi, sopan dan menutup aurat supaya kehormatan tetap tejaga.


وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً -٣٢-

Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. al-Isra’/17:32)


Ayat ini berisi larangan mendekati zina karena zina adalah perbuaan keji dan jalan yang buruk. Zina adalah persetubuhan antara laki-laki dan wanita yang tidak memiliki ikatan perkawinan yang sah. Begitu juga persetubuhan yang dilakukan oleh sesama laki-laki atau pun sesama perempuan disebut perbuatan zina.


Perbuatan tersebut disingkat dengan istilah LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender). Lesbian adalah seorang perempuan yang tertarik dengan perempuan lain. Gay adalah seorang pria yang tertarik dengan pria lain atau sering disebut dengan homoseksual. Biseksual yaitu seseorang yang tertarik baik kepada pria maupun wanita. Sedangkan transgender yaitu orang yang identitas gendernya bukan laki-laki dan bukan perempuan atau gendernya berbeda dengan dokumen yang ditulis oleh dokter di surat kelahiran Sedangkan yang dimaksud perbuatan mendekati zina adalah semua perbuatan yang dapat mengakibatkan pelakunya terdorong melakukan zina.


Memakai pakaian yang tidak menutup aurat juga akan mengundang nafsu syahwat. Sungguh amat disayangkan banyak orang mengumbar aurat dengan berpakaian mini dan ketat


يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ -٢٧-


Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah Menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. al-A’raf/7: 27)


Ayat di atas menceritakan peristiwa terbukanya aurat Adam dan Hawa. Para ulama menyimpulkan bahwa pada hakikatnya menutup aurat adalah fitrah manusia. Sejak semula, Adam dan Hawa tidak dapat saling melihat aurat masing-masing. Hal ini dikarenakan aurat mereka tertutup sehingga mereka sendiri pun tidak dapat melihatnya. Kemudian setan menggoda Adam dan Hawa agar memakan pohon terlarang.


Akibatnya adalah aurat mereka yang semula tertutup menjadi terbuka. Adam dan Hawa menyadari bahwa auratnya terbuka sehingga mereka berusaha menutupinya dengan daun-daun surga. Usaha tersebut menunjukkan bahwa sejak awal penciptaannya manusia memiliki naluri untuk menutup aurat dengan cara berpakaian. Ide untuk membuka aurat adalah ide keliru yang bermaksud menjerumuskan manusia supaya ingkar kepada Allah Swt.


الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ -٢- 


“Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman.” (Q.S. an-Nur/24:2)


Berdasarkan kitab Sahihain melalui riwayat az-Zuhri, dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Atabah ibnu Mas’ud, dari Abu Hurairah dan Zaid ibnu Khalid al-Juhani tentang kisah dua orang Badui yang datang menghadap kepada Rasulullah Saw. Salah seorang mengatakan:


”Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak laki-lakiku ini pernah menjadi pekerja orang ini dan ternyata anak laki-lakiku ini berbuat zina dengan istrinya. Maka aku tebus anak laki-lakiku ini darinya dengan seratus ekor kambing dan seorang budak perempuan. Kemudian aku bertanya kepada orang-orang yang ‘alim, maka mereka mengatakan bahwa anakku dikenai hukuman seratus kali dera dan diasingkan selama satu tahun, sedangkan istri orang ini dikenai hukuman rajam.” Maka Rasulullah Saw. menjawab: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, sungguh aku akan melakukan peradilan di antara kamu berdua dengan berdasarkan Kitabullah. Budak perempuan dan ternak kambingmu dikembalikan kepadamu, dan anak laki-lakimu dikenai hukuman seratus kali dera dan diasingkan selama satu tahun. Sekarang pergilah kamu, hai Unais seorang lelaki dari Bani Aslam yang ada di majelis itu kepada istri lelaki ini. (Tanyailah dia) jika dia mengaku, maka hukum rajamlah dia. Maka Unais berangkat menemui istri lelaki Badui itu dan menanyainya. Akhirnya wanita itu mengakui perbuatannya, lalu ia dihukum rajam (dengan dilempari batu-batu sebesar genggaman tangan hingga mati).


Zina dibagi menjadi dua kategori

1. Zina muhshan, yaitu zina yang dilakukan oleh seorang laki-laki atau perempuan yang sudah pernah menikah

2. Zina ghairu muhshan, yaitu zina yang dilakukan seorang laki-laki atau perempuan yang belum pernah menikah atau masih perjaka/gadis. Hukuman zina ghairu muhshan adalah didera seratus kali dan diasingkan selama satu tahun.


“Dari Zaid bin Khalid Al Juhani mengatakan: “Aku mendengar Nabi Saw. menyuruh menghukum orang yang berzina dan dia belum menikah dengan dera seratus kali dan diasingkan selama setahun.” (H.R. Bukhari)


Dampak buruk pergaulan bebas dan perbuatan zina

1) Menimbulkan berbagai jenis penyakit kelamin seperti, misalnya AIDS. Penyakit AIDS adalah penyakit mematikan karena menyerang kekebalan tubuh.

2) Pezina akan dihukum berupa dera (cambuk) sebanyak seratus kali atau dirajam sampai mati. Hukuman ini berfungsi memberikan efek jera kepada pelakunya.

3) Mendapat hukuman sosial dari masyarakat, yaitu dikucilkan oleh masyarakat. Para pezina telah merusak dan mengotori tatanan kehidupan masyarakat, sehingga masyarakat memberikan hukuman sosial kepada mereka.

4) Merusak dan mengaburkan hubungan nasab. Keturunan yang sah menurut Islam adalah anak yang dilahirkan dari pernikahan yang sah. Sedangkan anak hasil perzinaan akan memiliki nasab yang tidak jelas.

5) Menghancurkan masa depan anak. Anak yang lahir dari perbuatan zina akan mengalami tekanan psikologi dan menghadapi kehidupan yang sulit karena tidak memiliki identitas ayah yang jelas.

6) Memicu perbuatan dosa besar yang lain, seperti menggugurkan kandungan, membunuh anak hasil zina, membunuh wanita yang telah hamil karena perzinaan, atau bunuh diri karena malu telah berzina.


Hikmah Pengharaman Pergaulan Bebas dan Perbuatan Zina

Adapun hikmah pengharaman pergaulan bebas dan perbuatan zina adalah :

1) Menjaga harga diri, kehormatan dan martabat kemanusiaan;

2) Menjaga keturunan agar terhindar dari ketidakjelasan nasab;

3) Menjagadiri dari penyakit yang ditimbulkan dari perzinaan, seperti penyakit kelamin dan HIV/AIDS;

4) Menghindari dosa-dosa lain yang diakibatkan setelah melakukan zina, seperti pengguguran kandungan, atau bunuh diri karena malu telah berzina; dan

5) Memberikan efek jera kepada orang lain. Hal ini dikarenakan hukuman berat bagi pelaku zina akan menimbulkan rasa takut mendekati zina


Cara Menghindari Pergaulan Bebas dan Perbuatan Zina

Bagaimanakah cara menghindarkan diri dari pergaulan bebas dan perbuatan zina? Cara-cara efektif yang bisa dilakukan adalah sebagaiberikut.

1) Berpakaian menutup aurat, rapi dan sopan. Dengan berpakaian menutup aurat, rapi dan sopan maka kehormatan diri akan terjaga;

2) Memilih teman bergaul yang saleh sebab teman yang saleh akan mengajak berbuat baik dan saling mengingatkan bahaya perbuatan maksiat;

3) Menghindari tempat-tempat maksiat yang dapat memberikan peluang dan kesempatan untuk berzina. Jika kita sudah berada ditempat maksiat, maka akan sulit berpaling dari berbagai macam kemaksiatan;

4) Hindari perilaku yang menjurus kepada perbuatan zina, seperti berpacaran, berdua ditempat sepi, berciuman, berpelukan dengan lawan jenis, menonton tayangan media yang mengandung pornografi atau membaca bacaan yang mengandung unsur-unsur yang menimbulkan nafsu birahi. Jika seseorang mendekati perilaku yang menjurus kepada zina peluang melakukan perzinaan akan semakin besar;

5) Mengisi waktu dengan berbagai kegiatan positif, seperti membaca buku keislaman, menghadiri majelis taklim, dan aktif dalam organisasi remaja masjid. Waktu yang kosong tanpa kegiatan positif akan menyebabkan seseorang terbawa oleh khayalan, angan-angan kosong dan tergoda oleh hawa nafsu

6) Memperbanyak mengingat Allah Swt. dengan berzikir, membaca alQur’an, serta mohon perlindungan dari Allah Swt. supaya dijauhkan dari bahaya pergaulan bebas dan perbuatan zina.




Meneladani Dakwah Rasulullah SAW. di Makkah (Materi PAI)

Meneladani Dakwah Rasulullah SAW. di Makkah (Materi PAI)

Pada tanggal 17 Ramadan tahun 610 M (13 tahun sebelum hijrah) Nabi Muhammad Saw. yang saat itu berusia 40 tahun mendapat wahyu pertama, yaitu surat al-‘Alaq/96: 1-5. Peristiwa ini menandai diangkatnya Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul. Setelah turunnya wahyu kedua, yaitu surat al-Mudatsir/74: 1-7 Rasulullah Saw. diperintah oleh Allah Swt. untuk berdakwah. Bukanlah hal mudah untuk menyampaikan ajaran tauhid kepada penduduk Makkah. Hal ini dikarenakan mayoritas penduduk Makkah telah memiliki agama, yaitu menyembah berhala.


Masyarakat Arab ketika itu dikenal dengan masyarakat Arab jahiliyah karena masih berada dalam kebodohan. Kebodohan yang dimaksud adalah kebodohan dalam bidang moral, norma, etika, hukum dan agama.


Kondisi Masyarakat Arab Jahiliyah

Berdasarkan asal usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu Qahthaniyun (keturunan Qahthan), dan ‘Adnaniyun (keturunan Ismail bin Ibrahim). Pada awalnya, golongan ‘Adnaniyun menduduki wilayah utara, dan wilayah selatan diduduki oleh golongan Qahthaniyun. Namun, seiring perkembangan waktu, kedua golongan itu membaur menjadi satu karena perpindahan dari utara ke selatan dan sebaliknya.


Kondisi masyarakat Arab sebelum Islam dikenal dengan istilah jahiliyah. Masyarakat jahiliyah berarti masyarakat yang masih berada dalam kebodohan. Kebodohan tersebut adalah kebodohan dalam bidang moral, norma, etika, hukum, dan agama.


Jadi, inti dari karakter jahiliyah adalah memiliki sifat keras kepala, mengutamakan hidup jangka pendek, tidak mau merubah perilaku pada perilaku yang benar menurut aturan agama.


Sistem hidup masyarakat jahiliyah sangat ditentukan oleh dua hal, yaitu kekuasaan kesukuan dan kekuasaan ekonomi. Masing-masing suku atau kabilah bersaing untuk menjadi yang paling kuat dan paling disegani. Sumber kekuatan mereka adalah kesetiaan dan solidaritas di antara anggota kelompok. Penduduk Arab jahiliyah memiliki tabiat suka berperang.


Seorang wanita tidak punya hak mewarisi harta peninggalan suaminya, bapaknya atau anggota keluarga lainnya. Apabila terjadi peperangan antarsuku, maka suku yang kalah akan dijadikan budak oleh suku yang menang.


Masyarakat Arab jahiliyah memiliki kebiasaan buruk, di antaranya minum minuman keras, berjudi, dan membunuh. Lebih dari itu, mereka beranggapan bahwa minum minuman keras, berjudi, mencuri, merampok, berzina, membunuh bukan merupakan perbuatan salah. Hal ini merupakan bentuk kejahiliyahan di bidang norma, etika, dan hukum.


Nabi Muhammad Saw. diangkat Sebagai Rasul

Ketika menginjak usia 40 tahun, Nabi Muhammad Saw. lebih banyak mengerjakan tahannuts (menyendiri, menjauhkan diri dari keramaian) daripada waktu-waktu sebelumnya. Pada malam 17 Ramadan atau bertepatan 6 Agustus 610 Masehi, ketika bertahannuts di gua Hira, datanglah Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad Saw. untuk menurunkan wahyu pertama yaitu surat Al-Alaq ayat 1–5. Gua Hira tertelak di jabal Nur (Bukit Cahaya) yang terletak kira-kira dua atau tiga mil sebelah utara kota Makkah.


Substansi Dakwah Rasulullah Saw. di Makkah

a. Mengajarkan tauhid kepada Allah Swt.

Rasulullah Saw. mengajak masyarakat Arab yang saat itu menyembah berhala agar mengesakan (tauhid), menyembah hanya kepada Allah Swt. semata, serta mengakui kerasulan Muhammad Saw. Islam mengajarkan bahwa Allah Swt. adalah Maha Esa, Dialah tempat memohon bagi semua makhluk-Nya, Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada satupun yang menyamai-Nya. 


b. Memperbaiki akhlak masyarakat Makkah

Rasulullah Saw. memperbaiki akhlak masyarakat Makkah yang saat itu terbiasa berperilaku jahiliyah, seperti minum minuman keras, berjudi, berzina, dan membunuh.


c. Menegakkan keadilan dan persamaan derajat

Islam mengajarkan persamaan derajat di antara sesama manusia. Masyarakat Arab jahiliyah saat itu masih membedakan derajat laki-laki dan perempuan, dan antara budak dan majikannya. Semua manusia sama derajatnya di sisi Allah Swt., yang membedakan adalah ketaqwaannya.


d. Mengajarkan adanya hari kiamat

Islam mengajarkan bahwa setelah alam dunia ini hancur dan akan digantikan dengan alam akhirat. Setiap manusia akan diminta pertanggungjawaban atas perbuatan selama mereka hidup di dunia. Bagi yang beramal saleh dan berperilaku mulia akan mendapat balasan surga. Sebaliknya bagi yang bermaksiat dan perilaku tercela akan dibalas dengan neraka.


Strategi Dakwah Rasulullah Saw. di Makkah

a. Dakwah secara sembunyi-sembunyi (selama kurang lebih tiga tahun)

Pada mulanya Rasulullah Saw. menyampaikan ajaran Islam kepada anggota keluarga, sahabat, dan orang-orang yang paling dekat dengan beliau.


Dakwah secara sembunyi-sembunyi berhasil mengislamkan: Khadijah (istri Nabi), Abu Bakar (sahabat dekat Nabi), Ali bin Abi Thalib (sepupu Nabi), Zaid bin Haritsah (budak yang dipelihara Nabi), Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidillah bin Jarrah, Arqam bin Abil Arqam, Fatimah binti Khaththab (adik Umar bin Khaththab) beserta suaminya Said bin Zaid Al-‘Adaw.


Orang-orang yang disebutkan di atas disebut Assabiqunalawwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam). Rasulullah Saw. menemui mereka secara perorangan dan mengajarkan Islam dengan sembunyi-sembunyi. Akhirnya mereka memeluk Islam secara sembunyi-sembunyi pula. 


b. Dakwah secara terang-terangan (selama 10 tahun)

Setelah turun ayat Q.S al Hijir ayat 94, Rasulullah Saw. mengundang tokoh-tokoh penting dari kafir Quraisy. Mereka hadir memenuhi undangan tersebut dan terjadi dialog antara Nabi Saw. dengan mereka. Rasulullah Saw. menyampaikan ajaran Islam yang mulia kepada mereka. Pada akhir pertemuan tersebut, mereka mengingkari segala apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw., kecuali paman Nabi Saw.,


Dakwah mulai gencar dilakukan oleh Rasulullah Saw. hingga bergema ke seluruh wilayah kota Makkah. Rasulullah Saw. bangkit berdakwah melawan segala kemusyrikan dan segala bentuk penyembahan kepada selain-Nya. Rasulullah Saw. dengan tegas menyatakan bahwa siapa saja yang menyembah berhala dan menjadikannya penolong. Sungguh mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Dakwah ini mendapat rintangan dan mendapat tantanngan dari kaum kafir Quraisy.


Reaksi Kaum Kafir Quraisy

Kaum kafir Quraisy menolak dan menentang ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Penolakan dan penentangan ini dipelopori oleh tokoh-tokoh kafir Quraisy, diantaranya Abu Lahab, Abu Jahal dan Abu Sufyan. Ada beberapa faktor yang mendorong kaum kafir Quraisy menentang Islam dan kaum Muslimin, antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Persaingan perebutan kekuasaan
  2. Persamaan hak dan derajat
  3. Taklid kepada nenek moyang


Kaum kafir Quraisy juga melakukan pemboikotan terhadap Nabi Muhammad Saw. dan umat Islam. Kaum kafir Quraisy melarang anggota kelompoknya untuk berbicara dengan orang Islam, melakukan jual beli dengan orang Islam; dan menikah dengan orang Islam.


Penyebab Keberhasilan Dakwah Nabi

Berikut adalah penyebab keberhasilan perjuangan dakwah Rasulullah Saw. di kota Makkah :

  1. Berakhlak mulia
  2. Memiliki analisa sosial yang cerdas
  3. Memiliki niat yang kuat
  4. Penuh kasih sayang
  5. Menyampaikan kebenaran
  6. Menggunakan strategi yang tepat


Hikmah Dakwah Rasulullah Saw. di Makkah

  1. Menumbuhkan keyakinan bahwa Allah Swt. pasti akan menolong hamba-Nya yang sabar, tabah, dan memiliki semangat tinggi dalam berdakwah
  2. Meyakini bahwa semua hidayah datangnya dari Allah Swt., sementara Rasulullah Saw. hanya bertugas menyampaikan risalah.
  3. Islam mengajarkan persamaan hak dan derajat bagi semua manusia. Setiap orang memiliki kedudukan yang sama di sisi Allah Swt., hanya ketaqwaanlah yang menjadi ukuran kemuliaan di hadapan Allah Swt.
  4. Setiap perjuangan dakwah membutuhkan pengorbanan. Rasulullah Saw. dan para sahabat telah mengorbankan harta benda dan jiwa untuk menengakkan ajaran Islam. 


Dakwah Rasulullah di Mekah


Terbiasa Saling Menasehati dan Berbuat Baik (Ihsan) PDF PPT Materi PAI

Terbiasa Saling Menasehati dan Berbuat Baik (Ihsan) PDF PPT Materi PAI

Agama Islam mengajarkan supaya pemeluknya saling menasehati dan berbuat baik terhadap siapa saja. Bahkan kepada makhluk lain pun harus berbuat baik karena saling menasihati dan berbuat baik itu banyak manfaat dan hikmahnya. Di antara manfaat dan hikmat disyariatkan saling menasihati dalam kebaikan itu adalah sebagai berikut.


Mempererat hubungan antara sesama

Nasihat menasihat antara sesama itu dapat menumbuhkan rasa kebersamaan sehingga dapat mempererat hubungan antara satu dengan yang lainnya.


Tergolong orang yang tidak rugi dalam hidupnya

Orang yang saling menasihat dalam kebaikan itu tidak akan rugi dalam hidupnya. Hal ini dijelaskan dalam Surah al-‘Asr sebagai berikut:


Artinya : “Demi masa, sungguh, manusia berada dalam dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”. (Q.S. al-‘Asr/103; 1-3)


Selalu terkontrol

Akan teringat jika akan berbuat kemaksiatan, sehingga tidak jadi berbuat kemaksiatan, karena diingatkan oleh temannya. Akan memperoleh pahala dari Allah Swt, karena nasihat menasihati itu melaksanakan perintah Allah Swt. Sebagaimana diamanahkan dalam surah al-‘Asr ayat 1-3.


Dalam al-Qur’an surah al-‘Asr, Allah Swt. menjelaskan kepada kita tentang ciri orang beriman, yaitu orang-orang yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Artinya, setiap muslim beriman hendaknya berupaya semaksimal mungkin untuk saling mengajak kepada kebaikan, mengajak kepada hal yang akan mendekatkan kepada Allah Swt. dan, melarang dari perbuatan yang tidak disukai Allah Swt.


Salah satu hikmah mengapa kita harus saling menasihati adalah karena setiap orang mendambakan keselamatan hidup. 


berbuat baik ihsan


Gratis PDF Materi PAI Terbiasa Saling Menasehati dan Berbuat Baik (Ihsan) Unduh