Insyha Allah Bermanfaat

Featured

Mengapa Orang Victoria Senang Berpose Di Samping Tanaman Aspidistra? 🌱

Aspidistra - Tanaman pot sudah menjadi bagian dari rumah tangga selama ribuan tahun. Orang Mesir kuno, Yunani, dan Romawi semuanya memelih...

Cara membuat Blog di Aplikasi Milkshake Mudah Banget

Cara membuat Blog di Aplikasi Milkshake Mudah Banget

Cara membuat blog di Milkshake App Mudah Banget - Seperti judul postingan kali ini, kita akan belajar cara membuat blog di Milkshake App atau Aplikasi milkshake, caranya sangat mudah. kalian hanya perlu mengikuti langkah-langkah dibawah ini. tapi sebelum lanjut ke langkah-langkahnya, mari kita tambah pengetahuan kita dengan mengenal apa itu Milkshake apps?





Apa itu Milkshake?

Milkshake app bisa dibilang platform social media, bisa dibilang juga platform blog atau micro blogging. karena seperti fungsi utamanya yaitu membuat website di ponsel hanya dalam hitungan menit menggunakan aplikasi Milkshake dengan seru, cepat, gampang dan gratis. Dan aplikasi Milkshake ini nantinya bakal berguna banget buat kalian parra blogger, Youtuber, influencer dan freelancer. ada banyak sekali manfaat dari aplikasi ini.



Fungsi atau Kegunaan Aplikasi Milkshake

Buat para influencer, selebgram dan sebagainya kalian bisa menggunakannya untuk ganti link bio seperti halnya link tree, tapi menurut saya Milkshake lebih bagus terutama dalam hal designnya. Sehingga kamu yang pejuang affiliate atau admin online shop bisa menjual lebih banyak produk dan berbagi lebih banyak dari semua media sosial kamu, seperti Instagram, Tiktok, Youtube, Facebook etc. Kamu cuma butuh satu link untuk semua. contoh perwujudan link dari Milkshake milik saya sendiri https://msha.ke/undygun



Aplikasi milkshake


Buat kamu para Blogger dan Youtuber, kamu bisa menggunakan aplikasi Milkshake sebagai backlink ke situs web kalian atau akun Youtube kalian atau bahkan link ke Video youtube terbaru kalian. berlaku juga untuk post Sosial Media kalian. apapun linknya bisa pokoknya.



Cara membuat Post di Aplikasi Milkshake

Aplikasi website builder Milkshake jauh lebih gampang dibanding website builder drag and drop. Bikin website Milkshake dari ponsel itu mudah banget, cuma ikuti beberapa langkah dibawah ini.


Yang pertama dan paling utama kalian harus instal aplikasi Milkshakenya dong... kalian bisa download di Play Store atau APP Store secara grateeeeesss!!!


Milkshake website builder playstore



Terus buka aplikasinya ya gaes

Terus disini saya mulai membuat post dengan menggunakan salah satu kartu (Card) yang sudah disiapkan Milkshake untuk kita pake, kalian bebas mau pilih yang mana. tapi disini saya pilih Kartu Splash, yang 'Blank Canvas'. untuk yang 'Kartu Splash' ini fungsinya untuk menambahkan link ke website kamu atau postingan/artikel pilihan di website kamu, bisa untuk promosi atau sekedar gambar quotes, atau teks apalah terserah kalian.






Tapi buat kalian yang mau menambahkan banyak link dalam satu kartu, yang kaya link tre, kalian pilih saja 'Kartu Links'. disitu bisa memasukkan link tak terbatas.






Lanjuut,,, tadi saya pilih Blank Canvas ya, setelah di pilih, akan muncul seperti pada gambar di bawah ini. kalian isikan Card heading dengan judul kartu atau judul post kalau di blog. terus kalian bisa upload gambar untuk bagian image. Lalu untuk Card heading kalian isi cuplikan teks, jangan satu artikel (Tapi terserah juga si hehe). Bagian action link, kalian bisa tulis contoh "Beli sekarang". "Baca selanjutnya" dsb, sesuai kebutuhan. Terus yang terakhir di bagian link, kalian masukkan link yang ingin diarahkan. boleh link produk, link whatsapp, link postingan blog, link sosmed, link affiliate dll.





Habis ini ngapain? tinggal di preview, kalau sudah oke dan yakin, tinggal klik publish. selesai...


Semua bidang teks dan gambar bersifat opsional, jadi biarkan kosong atau tambahkan konten sesuai kebutuhan.


sampai sini paham? atau perlu ada yang ditanyakan?, silahkan tinggalkan komentar kalian dibawah. saya akan sangat senang mendengar cerita kalian gaes.. jangan lupa share ke temen kalian biar mendapat pahala. thank you.



Meneladani Asmaul Husna Dalam Kehidupan (Materi PAI Kelas X SMA/SMK)

Meneladani Asmaul Husna Dalam Kehidupan (Materi PAI Kelas X SMA/SMK)

Pengertian Asmaulhusna

Asmaulhusna merupakan suatu istilah yang terkait dengan namanama Allah Swt. Asmaulhusna dalam bahasa Arab berasal dari kata alasma yang artinya nama yang merupakan bentuk jamak, dan al-isma dalah bentuk tunggalnya. Al-husna itu sendiri artinya ‘yang paling baik’. Secara istilah, arti dari Asmaulhusna adalah nama–nama Allah Swt yang terbaik atau terindah.


Lebih dari itu, Asmaulhusna ini tidak hanya mengacu pada nama-nama, melainkan juga mencakup sebutan, gelar, hingga sifat-sifat Allah Swt. Istilah Asmaulhusna ini dikenalkan oleh Allah melalui firman-Nya dalam Q.S. Thaha/20: 8 yang berbunyi:


اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى


Artinya: “Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai namanama yang terbaik”.


Ayat ini menjelaskan bahwa Allah Swt. yang menurunkan al-Qur’an merupakan pencipta dan pemilik alam ini. Allah Maha Kuasa dan tempat manusia meminta. Untuk memanggil-Nya, Allah Swt. memiliki banyak nama. Semua nama itu baik karena menunjukkan kepada kesempurnaan-Nya, keperkasaan dan keagungan-Nya.


Disebutkan dalam sebuah hadis bahwa Allah Swt. memiliki 99 nama. Imam Bukhari meriwayatkkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw.


عن أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: "للهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسمًا مِئةٌ إِلا وَاحَدِةً لا يَحْفَظُها أحَدٌ إلا دَخَلَ الجَنَّةَ، وهو وَتْرٌ يُحِبُّ الوَتْرَ


“Dari Abu Hurairah r.a. Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barang siapa yang menghafalkannya, maka ia akan masuk surga”. (H.R. Bukhari)


Maksud kata menzikirkannya, “menghafalkannya” adalah menjaganya, memahaminya, menjadikannya doa, mengulang-ngulang dalam membacanya dan berusaha berakhlak dengannya, serta mengetahui makna-maknanya. Allah Swt. menamakan dirinya dengan nama-nama dalam Asmaulhusna.


Asmaulhusna merupakan taufiqiyyah, yaitu atas petunjuk Allah dan Rasul-Nya, bukan berdasarkan penalaran manusia. Asmaulhusna merupakan sifat-sifatNya yang mulia dan bukanlah dzat-Nya.


Manusia tidak akan pernah mampu untuk memikirkan Dzat Allah Swt. Karena akal manusia memiliki kelemahan untuk mengetahui esensinya. Oleh karena itu, taklif yang dibebankan kepada manusia hanya sebatas menyucikan Allah Swt. dengan asma-asma-Nya. Allah Swt.


Adapun jumlah Asmaulhusna seluruhnya, secara pasti hanya Allah Swt. yang tahu. Di luar jumlah 99, ada yang berpendapat jumlahnya 100, 200, 1000, bahkan tidak terhitung karena begitu banyaknya. Sementara itu, jumlah yang 99 itu adalah asma yang termasyhur yang dikenal selama ini.



Dalil Naqli tentag Asmaulhusna


وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ


Artinya: “Dan Allah memiliki Asmaulhusna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.


قُلِ ادْعُوا اللّٰهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَۗ اَيًّا مَّا تَدْعُوْا فَلَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا


“Katakanlah (Muhammad), “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asmaulhusna) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.”


Pembagian Asmaulhusna ditinjau dari Maknanya


1. Asma-asma Allah yang menunjukkan sifat dzat Allah Swt. yang dimaksud adalah sifat yang harus ada pada Rabb dan sifat itu terus melekat pada diri Allah Swt. Sifat-sifat ini tidak terpisahkan dari dzat Allah Swt. dan ia tidak tergantung dengan kehendak Allah Swt. Asmaasma Allah Swt.

2. Asma-asma Allah Swt. yang menunjukkan sifat perbuatan (fi’liyah) Allah Swt. yang dimaksud adalah sifat yang terkait dengan kehendak Allah Swt. Jika Allah Swt. berkendak, Dia akan melakukannya. Sebaliknya, jika tidak berkehendak, maka Dia tidak melaksanakannya.

3. Asma-asma Allah Swt. yang menunjukkan kesucian dan kesakralan serta pembebasan Tuhan dari segala sifat kekurangan dan keburukan yang tidak pantas dan layak bagi keagungan, kesempurnaan, dan kemulianNya. 

4. Asma-asma Allah Swt. yang menunjukkan beberapa sifat, tetapi tidak menunjukkan makna tunggal.



Makna Asmaulhusna dan Implementasinya dalam Kehidupan

1. Al-Karim

Al Karim (Yang Maha Mulia) merupakan asma Allah Swt. yang terdapat dalam Asmaulhusna yang menghimpun makna segala bentuk kebaikan dan pujian yang tidak hanya dalam aspek pemberian semata karena aspek tersebut hanyalah salah satu bentuk kesempurnaan maknanya.


2. Al Mu’min

Al-Mu’min artinya ‘Allah Swt. Maha Pemberi Rasa Aman kepada semua makhluk-Nya’, terutama manusia. Keamanan dan rasa aman yang diperoleh manusia meru­pakan bukti kasih sayang dan kekuasaan Allah Swt. Manusia akan memperoleh ketenangan hati jika selalu ingat dan melaksanakan perintahperintah Allah Swt. Perasaan gelisah dan khawatir muncul akibat perbuatan dosa yang dilakukan manusia sendiri.


3.Al Wakil

Al-Wakil (Yang Mencukupi dan Menjamin) mengandung makna umum dan khusus. Allah Swt. menjamin rezeki dan urusan makan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Allah Swt. jugalah yang mengelola segala urusan alam semesta beserta pengaturannya.


4.Al-Matin

Al-Matin artinya ‘Dzat yang Sangat Kuat’. Adapun maknanya adalah Dzat yang memiliki kekuatan sempurna yang kemampuan dan kuasa-Nya mencapai puncak tertinggi. Tidak ada yang mengalahkan Dia, siapa pun, baik yang ada di bumi maupun di langit. Tidak ada penggerak di alam semesta ini, selain Allah.


5. AL Jami'

Al-Jami’ artinya ‘Yang Maha Penghimpun’. Maknanya adalah Dzat yang menyatukan segala sesuatu, dan tidak ada satu pun yang dapat mencerai beraikannya.


6. Al 'Adl

Al-‘Adl artinya ‘Yang Maha Adil’. Maknanya adalah bahwa Allah Swt. suci dan bersih dari berbuat zalim dan menentukan secara zalim. Dialah Dzat yang memberikan orang yang berhak sesuai dengan haknya. Dzat yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Tidak ada yang keluar dari-Nya selain keadilan.


7. Al Akhir

Al-Akhir artinya ‘Yang Terakhir’. Maknanya adalah Dzat yang kekal, Maha Sendiri tanpa akhir. Mahasuci Allah, tidak boleh bagiNya sifat fana. Dia Maha Akhir karena menfanakan makhlukNya dan Dia sendiri kekal setelah semua makhluk-Nya fana. Sifat al-Akhir milik Allah Swt. berarti kekekalan-Nya setelah berakhirnya segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang akhir selain Allah Swt. menjadi yang setelahnya.


Cara Menerapkan Asmaulhusna dalam Kehidupan

  1. mempelajari dan mengkajinya sehingga memiliki pengetahuan tentang Asmaulhusna. Dari sini kita mampu untuk mengenal Allah Swt.;
  2. mengusahakan dengan sekuat tenaga untuk menghafal asma-asma Allah Swt. yang terdapat dalam Asmaulhusna;
  3. menjadikan lafaz-lafaz Asmaulhusna sebagai bagian mengingat Allah Swt. dalam bentuk zikir setelah melakukan salat fardu dan bagian dari bacaan doa yang dilantukan seorang muslim
  4. menghafal ayat-ayat yang berkaitan dengan Asmaulhusna dan menjadikan hafalan tersebut sebagai bacaan ketika melaksanakan salat
  5. menerapkan perilaku akhlakulkarimah dengan meneladani asma-asma Allah yang terdapat dalam Asmaulhusna

Hikmah Menerapkan Asmaulhusna dalam Kehidupan.

  1. memperoleh keyakinan akan adanya rahmat, hidayah, taufik serta inayah dari Allah Swt.
  2. mendapatkan ganjaran berupa pahala sehingga terhindar dari siksa neraka dan memperoleh surga sesuai yang dijanjikan Allah Swt.;
  3. mendapatkan simpati banyak orang karena sudah memiliki pribadi yang berakhlakul karimah;
  4. mendatangkan manfaat bagi lingkungan baik lingkungan alam dan sosial;
  5. menumbuhkan sikap raja’, khauf, tawadhu, khusyu’, taubat, ikhlas, mahabbah, tawakal hanya kepada Allah Swt. serta sifat lainnya saat melaksanakan ibadah;

Asmaulhusna


Keselamatan dan Keamanan Kerja dalam Laboratorium Kimia PDF Gratis Presentasi

Keselamatan dan Keamanan Kerja dalam Laboratorium Kimia PDF Gratis Presentasi

Laboratorium merupakan ruang khusus yang digunakan untuk mempelajari fakta-fakta empiris melalui percobaan. Dalam kegiatan percobaan digunakan alat-alat yang memerlukan penanganan khusus dan bahan-bahan kimia yang umumnya berbahaya dan beracun. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai laboratorium kimia dan tata tertib laboratorium sangat penting. Hal ini tidak hanya bermanfaat untuk memperoleh manfaat dari setiap percobaan, tetapi juga untuk menjamin keamanan dalam setiap aktifitas laboratorium, baik keamanan bagi individu maupun kelompok.

Berikut Materi Presentasi dalam bentuk PDF gratis untuk di unduh. Tentang Keselamatan dan Keamanan Kerja dalam Laboratorium Kimia untuk pelajaran Kimia kelas X SMA/SMK


Preview
Ukhuwwah Materi PAI Kelas X SMA/SMK Gratis PDF Presentasi

Ukhuwwah Materi PAI Kelas X SMA/SMK Gratis PDF Presentasi

Semua mukmin adalah Saudara. Inti dari persaudaraan (ukhuwwah) adalah adanya persamaan, semakin banyak persamaan di antara sesama, maka akan semakin kokoh jalinan persaudaraan di antara sesama manusia. Sementara itu, persaudaraan (ukhuwwah) dibagi tiga, yaitu:


  1. Ukhuwwah Islamiyah, yaitu persaudaraan karena sama-sama memiliki persamaan agama dan keyakinan.
  2. Ukhuwwah Wathaniyah, yaitu persaudaraan karena sama-sama satu bangsa dan keterikatan keturunan tanpa membedakan suku, agama, warna kulit adat istiadat, budaya dan aspek-aspek lainnya.
  3. Ukhuwwah Insaniyah atau Basyariyah, yaitu persaudaraan karena samasama sebagai sesama manusia secara universal, tanpa membedakan ras, suku, bangsa, agama, warna kulit dan aspek-aspek lainnya.

Ketiga persaudaraan (ukhuwwah) tersebut harus dilaksanakan secara bersamaan, dan tidak boleh berdiri sendiri. Melaksanakan ketiga ukhuwwah tersebut secara bersamaan akan memperkuat tegaknya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang aman dan tenteram. Lebih dari itu Akan memunculkan solidaritas dan timbulnya kepedulian sosial di masyarakat. Sebagai sesama mukmin, maka kita harus mampu menjaga martabat dan kehormatan sesama mukmin.



اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (Q.S. alHujurat/49: 10)

Asbabunnuzul Q.S. al-Hujurat/49: 10

“Anas r.a. berkata: “Dikatakan kepada Nabi Saw. “Sebaiknya Baginda menemui ‘Abdullah bin Ubay.” Maka Nabi Saw. menemuinya dengan menunggang keledai, sedangkan kaum muslim berangkat bersama Beliau dengan berjalan kaki melintasi tanah yang tandus. Ketika Nabi Saw. menemuinya, ia berkata: “Menjauhlah dariku, demi Allah, bau keledaimu menggangguku”. Maka berkatalah seseorang dari kaum Ans[har, di antara mereka: “Demi Allah, sungguh keledai Rasulullah Saw. lebih baik daripada kamu”, maka seseorang dari kaumnya marah demi membela ‘Abdullah bin Ubay dan ia mencelanya, sehingga marahlah setiap orang dari masing-masing kelompok. Saat itu kedua kelompok saling memukul dengan pelepah kurma, tangan, dan sandal. Kemudian sampai kepada kami bahwa telah turun ayat Q.S. al-Hujurat ayat 10 yang artinya ("jika dua kelompok dari kaum muslimin berperang maka damaikan keduanya”). (H.R. Bukhari)





Persaudaraan sesama mukmin harus selalu dijaga agar semakin kokoh. Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda :

عَنْ أَبِي مُوسَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ (أخرجه البخاري

“Dari Abu Musa meriwayatkan dari Nabi Saw. Bahwa beliau bersabda: “kaum mukmin adalah bersaudara satu sama lain ibarat (bagian-bagian dari) suatu bangunan satu bagian memperkuat bagian lainnya.” dan beliau menyelipkan jari-jari disatu tangan dengan tangan yang lainnya agar kedua tangannya tergabung.” (H.R. Bukhari)


Adanya persaudaraan (ukhuwwah) yang kuat akan menjadikan kehidupan yang harmonis, diliputi rasa saling mencintai, saling menjaga perdamaian dan persatuan. Untuk memperkokoh persaudaraan (ukhuwwah) maka lakukanlah hal-hal berikut ini:

  1. Ta’aruf, saling mengenal antara umat Islam bukan hanya penampilan fisik namun juga tentang ide, gagasan dan lain sebagainya.
  2. Tafahum, dengan saling mengenal antara sesama umat Islam, maka akan timbul sikap berusaha untuk memahami saudaranya.
  3. Ta’awun, setelah saling memahami sudah terjalin, maka akan timbul sikap saling mendoakan dan saling menolong.
  4. Takaful, jika ketika sikap tersebut sudah terlaksana dengan baik maka akan timbul sikap senasib dan sepenanggungan seperti yang dicontohkan oleh sahabat-sahabat Anshar Madinah terhadap sahabat-sahabat Muhajirin dari Makkah.

Ukhuwwah islamiyyah merupakan konsekuensi dari iman. Hendaknya seorang muslim memiliki hati yang bersih dan menghindari sifat hasad ataupun iri terhadap kesuksesan orang lain. Sebaliknya harus merasa senang dan bahagia atas keberhasilan dan kesuksesan yang dicapai saudaranya. Kualitas iman yang dimiliki seorang muslim akan berdampak pada sikap dan perilaku sosial sesama muslim, misalnya tumbuhnya sikap tasamuh yaitu toleran dengan saling memahami, saling menghormati, saling menghargai dalam perbedaan, selama perbedaan tersebut masih bersifat furu’.


“Dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi.” (H.R. Muslim).


Hikmah Persaudaraan


Di antara hikmah menjaga persaudaraan (ukhuwwah) yaitu:
  1. menumbuhkan sikap saling memahami dan saling pengertian di antara sesama menumbuhkan sikap saling tolong-menolong,
  2. menumbuhkan sikap saling tolong-menolong
  3. menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai akan melahirkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa
  4. menimbulkan tenggang rasa dan tidak menzhalimi antara sesama.
  5. tercipta dan terjalinnya solidaritas yang kuat antara sesama muslim
  6. terbentuknya kerukunan hidup antara sesama warga masyarakat.


Menerapkan Perilaku Persaudaraan (ukhuwwah) untuk Meraih Hidup Bahagia

Persaudaraan sesama mukmin akan semakin kokoh dan terjaga dengan melakukan hal sebagai berikut:
  1. menghargai dan menghormati perbedaan pendapat dan pandangan hidup
  2. saling membantu apabila ada seorang muslim sedang mendapatkan kesulitan hidup
  3. mencintai sesama muslim hanya karena Allah Swt.
  4. memperlakukan saudaranya dengan baik, seperti memperlakukan dirinya


Berikut saya lampirkan file pdf presentasi materi Ukhuwwah Kelas 10 SMA/SMK. bisa di download secara gratis. semoga bermanfaat :)


Berfikir Kritis dan Berdemokrasi (Materi PAI XII)

Berfikir Kritis dan Berdemokrasi (Materi PAI XII)


Setiap orang berhak memberi penilaian dan kritik terhadap seseorang. Kritik boleh ditujukan kepada siapa saja. Orang boleh mengkritik kebijakan yang tidak sesuai dengan asas kemaslahatan. Baik itu kritik ke presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, bupati, kepala sekolah, dan guru. Namun, kritik hendaknya disampaikan dengan cara-cara yang beradab, bukan menghakimi pribadi seseorang, apalagi sampai menyinggung sisi-sisi kemanusiaannya.


Hanya saja, ada pula orang yang terlebih dulu bersikap apriori, berpikir negatif, dan berpendapat bahwa kritik adalah bentuk ekspresi kebencian. Kritik itu lahir sebagai bahan evaluasi. Kritik lahir sebagai apresiaasi dengan analisis yang logis dan argumentatif untuk menafsirkan sesuatu. Dalam perpolitikan, misalnya, politik hadir sebagai bahan masukan dan pelajaran untuk pembaruan kebijakan.Berbeda dengan mengkritik karya atau kebijakan seseorang hanya karena ada kebencian.


Musyawarah merupakan nilai-nilai kearifan untuk menyelesaikan masalah maupun memecah kebuntuan yang sudah dipraktikkan sejak zaman dulu. Dalam Islam musyawarah sudah diajarkan semenjak masa hidup Rasulullah Saw. dan diwariskan kepada penerusnya. Begitupun ketika Islam masuk ke Indonesia, musyawarah telah diadopsi dalam perbendaharaan perpolitikan Indonesia jauhjauh hari sebelum orang Indonesia akrab dengan kata demokrasi. Hal itu tampak dalam potongan kalimat “permusyawaratan dan perwakilan” yang berada pada sila ke-4 Pancasila.


Ayat–ayat berikut ini berisi pesan-pesan mulia tentang berpikir kritis (tafakkur), dan demokrasi (syura/musyawarah)


اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ


Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (QS. Ali 'Imran ayat 190)


الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (QS. Ali 'Imran ayat 191)


Dalam ayat al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk menggunakan akal, merenung dan memikirkan atas penciptaan Allah baik yang ada di langit dan bumi maupun di antaranya. Di antara ayat Al-Quran yang menerangkan tentang hal tersebut yaitu Q.S. Ali Imran Ayat 190-191.


Pada Q.S. Ali Imran Ayat 190 dijelaskan bahwa tatanan langit dan bumi serta dalam bergantinya siang dan malam secara teratur sepanjang tahun menunjukkan keagungan Tuhan, kehebatan pengetahuan dan kekuasaan-Nya. Langit dan bumi dijadikan oleh Allah bertingkat dengan sangat tertib, bukan hanya semata dijadikan, tetapi setiap saat tampak hidup, semua bergerak menurut orbitnya.


Bergantinya malam dan siang, berpengaruh besar pada kehidupan manusia dan segala yang bernyawa. Terkadang malam terasa panjang atau sebaliknya. Musim pun yang berbeda. Musim dingin, panas, gugur, dan semi, juga musim hujan dan panas. Semua itu menjadi tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah Swt bagi orang yang berpikir. Hal tersebut tidaklah terjadi dengan sendirinya Pasti ada yang mengaturnya yaitu Allah Swt.


Sementara itu Q.S. Ali Imran Ayat 191 memberikan penjelasan pada orang-orang yang cerdas dan berpikir tajam (Ulul Albab), yaitu orang yang berakal, selalu menggunakan pikirannya, mengambil ibrah, hidayah, dan menggambarkan keagungan Allah. Ia selalu mengingat Allah (berdzikir) di dalam keadaan apapun, baik di waktu ia berdiri, duduk atau berbaring. Ayat ini menjelaskan bahwa ulul albab ialah orang-orang baik lelaki maupun perempuan yang terus menerus mengingat Allah dengan ucapan atau hati dalam seluruh situasi dan kondisi.


Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa objek dzikir adalah Allah, sedangkan objek pikir ciptaan Allah berupa fenomena alam. Ini berarti pendekatan kepada Allah lebih banyak didasarkan atas hati. sedang pengenalan alam raya didasarkan pada penggunaan akal, yakni berpikir. Akal memiliki kemerdekaan yang luas untuk memikirkan fenomena alam, tetapi ia memiliki keterbatasan dalam memikirkan atas kekuasaan Allah Swt.


Secara singkat Q.S. Ali Imran Ayat 159 menyebutkan secara berurutan untuk dilakukan sebelum bermusyawarah, yaitu sebagai berikut

  1. Bersikap lemah lembut. Orang yang melakukan musyawarah harus menghindari tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala, supaya mitra musyawarah tidak pergi menghindar.
  2. Memberi maaf dan bersedia membuka diri. Kecerahan pikiran hanya dapat hadir bersamaan dengan sirnanya kekerasan hati serta kedengkian dan dendam.
  3. Memohon ampunan Allah Swt. sebagai pengiring dalam bertekad, kemudian bertawakal kepada-Nya atas keputusan yang dicapai yang diharapkan dari musyawarah adalah mufakat untuk kebenaran karena dalam bermusyawarah, kadang terjadi perselisihan pendapat atau perbedaan.
  4. Dalam menghadapi semua masalah orang yang bermusyawarah harus bersikap lemah lembut, melalui jalur musyawarah untuk mufakat, tidak boleh dilakukan dengan hati yang kasar dan perilaku kekerasan.
  5. Mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan setiap urusan.
  6. Apabila telah dicapai suatu kesepakatan, semua pihak harus menerima dan bertawakal (menyerahkan diri dan segala urusan) kepada Allah Swt. Dan Allah mencintai hamba-hambanya yang bertawakkal


Demokrasi dan Musyawarah

Konsep demokrasi pada hakekatnya sama hampir dengan konsep musyawarah dalam Islam. Namun, terdapat beber apa perbedaan diantara keduanya yang menyebabkan sebagian masyarakat masih belum dapat menerima konsep demokrasi. Ada dua hal yang mendasari perbedaan tersebut, di antaranya: (1) demokrasi berasal dari negara Barat, sedangkan musyawarah dalam Islam berasal dari negara timur; (2) pengambilan keputusan dalam sistem demokrasi lebih menekankan pada suara terbanyak, sedangkan keputusan musyawarah diambil berdasarkan kesepakan dan kesepahaman bersama walaupun pendapat berasal dari sekelompok tokoh masyarakat. 


Namun terlepas dari dua pemahaman tersebut, demokrasi dan musyawarah memiliki tujuan yang sama yaitu menghasilkan keputusan yang dapat diterima oleh setiap kalangan mayoritas dan kalangan minoritas. Musyawarah dan demokrasi merupakan dua metoda penyelesaian masalah dalam kehidupan dunia yang mengalami perbedaan bahkan sangat berlawanan. Musyawarah menghasilkan suatu keputusan yang disebut mufakat. Sedangkan, demokrasi menghasilkan suatu keputusan yang disebut penetapan pihak yang memenangkan atas dasar pemilihan.


Seementara itu mufakat sebagai hasil keputusan musyawarah merupakan hasil terbaik dari berbagai perbedaan dan kehendak dalam pemecahan masalah yang disepakati dan ditetapkan secara bersama terhadap suatu persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara. Demokrasi merupakan nilai dari Islam, yang memiliki makna dan hubungan yang erat.


Makna yang terkandung dalam musyawarah adalah sebagai berikut:

  1. Setiap manusia memiliki kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama
  2. Setiap orang tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain
  3. Setiap orang mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama
  4. Setiap orang menghormati dan menjunjung tinggi keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah
  5. Setiap orang mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi atau golongan
  6. Setiap orang memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan permusyawaratan


Menerapkan Prinsip Berpikir Kritis dan Berdemokrasi secara Islam

Islam sangat menghargai manusia yang berpikir kritis. Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak pengulangan kata yang berakar kata aql, fikr, fiqh, dzikr, yang menginspirasi untuk mengembangkan pemikiran pemikirannya. Semangat ini mendorong ilmuan Islam untuk mencurahkan gagasan dan pikiran sehingga melahirkan ilmu-ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat manusia di dunia.


Secara Islami berpikir kritis bukan berarti berpikir bebas yang tak terbatas karena kemampuan akal pikiran manusia memiliki keterbatasan. Oleh sebab itu hasil pemikiran sekaligus kebenaran berpikir yang dilakukan manusia bersifat relatif. Sementara itu kebenaran yang mutlak dan pasti hanyalah milik Allah Swt.


Oleh karena itu, ada kalimat yang masyhur di kalangan ulama fiqh, dan hampir semua imam mazhab pernah mengatakan kalimat ini, yaitu: “Pendapatku benar, tapi bisa saja salah. Pendapat selainku itu salah tapi bisa jadi benar”


Semua imam mazhab mengklaim bahwa pendapatnya itu ialah yang benar namun dengan kerendahan hati mereka mengatakan bahwa pendapatnya itu benar dengan kemungkinan adanya kesalahan, akan tetapi pendapat yang lain salah dengan kemungkinan adanya kebenaran di dalamnya.


Pernyataan para imam tentang kebenaran pendapat mazhabnya merupakan bentuk pertanggungjawaban atas apa yang telah mereka lakukan, dan bukan berarti menunjukkan kesombongan mereka. Dalam arti kata bahwa hasil pemikiran para imam mazhab itu dapat dipertanggungjawabkan karena telah melalui tahap pengujian berulangulang dan konsisten.


Sikap para imam mazhab dengan mempertahankan dan mempertanggungjawabkan kebenaran pendapat kelompoknya di satu sisi, sedangkan di sisi lain mengakui dan mengapresiasi pendapat kelompok yang lain merupakan cermin ajaran Islam yang sudah lama mempraktikkan nilai-nilai demokrasi. Istilah demokrasi memang baru dikenal dalam dunia Islam akan tetapi praktek demokrasi sudah dilakukan umat Islam semenjak berabad-abad silam. 


Di alam demokrasi, setiap orang boleh mengemukakan pendapat berdasarkan nalar kritisnya. Dengan catatan bahwa berpikir kritis sangat dianjurkan tapi memaksakan pendapat dan mencemooh pikiran pihak lain sangat dihindarkan.


Manfaat Berpikir Kritis

Pertama, berpikir kritis memiliki banyak solusi jawaban ide kreatif. Membiasakan diri berpikir kritis akan melatih siswa memiliki kemampuan untuk berpikir rasional. Berpikir dan bertindak reflektif adalah tindakan dan pikiran yang tidak direncanakan, terjadi secara spontan, serta melakukan hal-hal lain tanpa perlu secara ulang. Terbiasa berpikir kritis juga akan berdampak pada siswa memiliki banyak solutif dari jawaban serta ide-ide cerdas, jika siswa mempunyai suatu masalah, tidak hanya terpaku pada satu jalan solusi atau penyelesaian, siswa akan memiliki banyak opsi atau pilihan penyelesaian masalah tersebut. Berpikir kritis akan membuat siswa memiliki banyak ide-ide cerdas dan inovatif serta out of the box


Kedua, dengan berpikir kritis mudah memahami pemikiran orang lain. Berpikir kritis membuat pikiran lebih fleksibel, tidak kaku dalam mengutarakan pendapat atau pemikiran ide-ide dari yang lain, lebih mudah untuk menerima pendapat orang lain yang memiliki persepsi yang berbeda dengan diri sendiri. Hal ini memang tidak mudah untuk dilakukan, namun jika telah terbiasa untuk berpikir kritis, maka dengan sendirinya, secara spontanitas, hal ini akan mudah untuk dilakukan. Keuntungan lain dari memiliki pikiran yang lebih fleksibel dari berpikir kritis akan lebih mudah memahami sudut pandang orang lain. Tidak terlalu terpaku pada pendapat diri sendiri, dan lebih terbuka terhadap pemikiran, ide, atau pendapat orang lain.


Ketiga, dengan berpikir kritis dapat memperbanyak kawan dan rekan sejawat yang baik. Ada lebih banyak manfaat yang bisa diperoleh karena berpikir kritis, dan proses itu pada umumnya saling berkaitan. Misalnya saja lebih terbuka, menerima, serta tidak kaku dalam menerima pendapat orang lain, akan dihormati oleh teman-teman kerja, karena mau dan mengerti pendapat orang lain dengan pikiran terbuka.


Keempat, dengan berpikir kritis akan lebih mandiri. Mampu berpendapat secara mandiri, artinya tidak harus selalu mengistimewakan orang lain. Pada saat dihadapkan pada situasi yang rumit dan sulit serta harus segera mengambil keputusan, orang yang berpikir kritis tidak perlu menunggu orang lain yang mampu menyelesaikan masalah. Dengan memiliki pikiran yang kritis, seseorang akan dapat memunculkan ide-ide, gagasan, serta solusi penyelesaian masalah yang baik, melatih berfikir tajam, cerdas, serta inovatif.


Kelima, orang yang berpikir kritis sering menemukan peluang dan kesempatan baru dalam segala hal, bisa dalam pendidikan, pekerjaan atau bisnis atau usaha. Tentu saja hal ini akan berdampak pada kewaspadaan diri sendiri. Untuk menemukan peluang dibutuhkan pikiran yang tajam serta mampu menganalisa peluang yang ada pada suatu keadaan.


Manfaat Berdemokrasi secara Islami

  1. Kita tidak boleh berkeras hati dan bertindak kasar dalam menyelesaikan suatu permasalahan, tetapi harus bertindak dengan hati yang lemah lembut.
  2. Kita harus berlapang dada, berperilaku lemah lembut, bersikap pemaaf dan berharap ampunan Allah Swt.
  3. Dalam kehidupan sehari-hari kita harus mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan setiap persoalan.
  4. Apabila telah tercapai mufakat, kita harus menerima dan melaksanakan keputusan musyawarah.
  5. Kita selalu berserah diri kepada Allah Swt sehingga tercapai keseimbangan antara ikhtiar dan berdoa

Berfikir kritis dan berdemokrasi


Membentuk Pribadi Muslim yang Taat, Kompetitif, dan Beretos Kerja Unggul

Membentuk Pribadi Muslim yang Taat, Kompetitif, dan Beretos Kerja Unggul

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلً


Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah ( Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah-nya), jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (Q.S. an-Nisā’/4: 59).


Asbabunnuzul

Imam al-Bukhari meriwayatkan bertalian dengan turunnya Q.S. an-Nisa/4:59 ini, yakni terkait dengan penolakan para prajurit untuk masuk ke dalam api atas perintah Abdullah bin Hudzafah bin Qais, selaku komandan dalam suatu sariyah (perang yang tak diikuti Nabi). Mereka kemudian mengadu kepada Nabi Saw. tentang batasan taat kepada ulil amri, maka turun ayat ini, sebagai jawaban atas problema yang mereka hadapi.


Tafsir Ayat

  1. Ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya, yakni perintah kepada orang beriman, agar taat kepada perintah Allah Swt. dan Rasul, serta kepada ulil amri dalam menyelesaikan problema yang dihadapi berdasarkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits.
  2. Mentaati perintah Rasulullah Saw, baik perintah mengamalkan maupun meninggalkan larangan, karena merupakan perwujudan dari perintah Allah Swt.
  3. Mematuhi juga aturan atau ketentuan yang ditetapkan oleh ulil amri, yaitu: Orang-orang yang memegang kekuasaan di antara kamu atau mereka yang berwenang menangani urusan kamu, dengan catatan ketaatan kepada ulil amri tersebut tidak menyalahi aturan Allah Swt. dan Rasul-Nya.
  4. Ketaatan itu meliputi taat kepada Allah Swt. Rasul, dan kepada ulil amri. Ketiga ketaatan itu, tidak perlu dipertentangkan, tetapi dicari titik temunya, asalkan tidak menyalahi prinsip dan aturan yang ada.
  5. Jika terdapat masalah yang diperselisihkan dan tidak ada kata sepakat, disebabkan tidak ada petunjuk yang jelas di dalam Al-Qur’an dan Hadits, maka penyelesaiannya dikembalikan kepada nilai-nilai dan jiwa Al-Qur’an dan Hadits dengan menggunakan Ijtihad.


Taat di antara disiplin dan beragama yang baik

Taat menjadi faktor penting dalam mewujudkan disiplin, baik terhadap diri sendiri, keluarga, organisasi, masyarakat, bahkan dalam lingkup yang paling besar, yakni negara atau sebuah ummat. Sebab itu, kata tha’ah diulang ratusan kali di dalam Al-Qur’an, di antaranya adalah:


وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا


Artinya: Katakanlah: Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kami berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang kafi r (Q.S. Ali Imrān/3: 32).


Kata tha’ah, identik dengan kebaikan. Sebab, istilah ini biasa dihubungkan oleh kebanyakan masyarakat, sebagai bukti baiknya keberagamaan seseorang. Semakin beragama, semestinya semakin kuat ketaatannya. Jika kita temukan kebalikannya dalam kenyataan keseharian, berarti orang itu belum benar keberagamaannya, atau beragamanya belum utuh dan masih sepotong-potong.


Islam menggariskan bahwa ketaatan sangat terkait dengan dasar, landasan, atau motif seseorang. Boleh jadi, ada seseorang berbuat benar di jalan Allah Swt., namun jika memiliki motif atau niat lain, selain tertuju kepada-Nya, maka itu tidak dinamakan sebagai ketaatan. Firman Allah Swt.:


مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ


Artinya: Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah, dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka (Q.S. An-Nisā’/4: 80).


Jalan lurus itu lebar dan panjang, setiap orang beriman dapat menempuhnya, asalkan niat, praktik, dan tujuan akhirnya hanya tertuju kepada-Nya.


Itulah sebabnya, Islam memiliki pembahasan khusus perihal ketaatan, bahkan menempatkan perkara ini sebagai hal yang paling fundamental dalam tatanan kehidupan muslim. Benar tidaknya sebuah ketaatan, sangat tergantung dari kebenaran dan kemurnian akidah seorang muslim.


Ketaatan yang benar adalah ketaatan yang dilandasi hanya karena Allah Swt. semata. Berdasarkan landasan ini, bisa jadi ada seorang karyawan yang taat kepada pimpinan, namun jika ketaatan itu tidak didasari karena Allah Swt., maka itu tidak dinilai sebagai bentuk ketaatan.


Taat kepada Ulil Amri

Setiap orang beriman harus menaati Allah Swt., Rasulullah Saw., dan kepada para pemegang kekuasaan (ulil amri) demi terciptanya kemaslahatan bersama. Semua itu agar tercapai kesempurnaan pelaksanaan amanat dan hukum yang seadil-adilnya, baik dalam urusan dan kepentingan duniawi maupun akhirat.


Hanya yang perlu ditekankan, mematuhi ketentuan yang ditetapkan oleh ulil amri itu, jika sudah ada kesepakatan dalam satu hal melalui jalan musyawarah dan mekanisme yang demokratis. Bila sudah sampai pada tahap tersebut, kaum muslim berkewajiban mematuhinya, dengan syarat ketetapannya tidak bertentangan dengan aturan Allah Swt., dan Rasul-Nya.


Kenapa perlu juga taat kepada ulil amri? Jawabannya karena ajaran agama sendiri menyatakan bahwa kamu lebih mengetahui urusan duniamu. Artinya, banyak aturan dan ketentuan hidup yang belum diatur secara rinci oleh agama, dan itulah peran penting dari ulil amri untuk membuat aturan yang belum diatur oleh agama, tentu setelah melalui mekanisme dan cara-cara yang demokratis.


Berpijak pada prinsip tersebut, aturan Allah Swt. diletakkan pada posisi tertinggi, setelah itu aturan Rasul-Nya, selanjutnya aturan yang disusun oleh ulil amri (pemerintah/ pemimpin). Meski, sekali lagi ketaatan kepada pemimpin atau pemerintah atau pihak lain itu, harus sejalan pula dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Sabda Rasulullah Saw.:


Dari Abdullah bin Umar r.a. Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda : Mendengar dan taat itu, wajib bagi seorang muslim terlepas ia suka dan benci, selama ia tidak diperintah berbuat maksiat; jika diperintah untuk maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” (H.R. al-Bukhari)


Isi dan kandungan Hadits tersebut, Islam memberi garis yang jelas bahwa seseorang boleh saja taat kepada siapa saja, asalkan ketaatan itu tidak menyimpang dari aturan Allah dan Rasul-Nya. Misalnya, menaati aturan berlalu lintas, aturan di sekolah, berbakti kepada kedua orang tua, dan patuh kepada pimpinan di lingkungan kerja.


Sejalan dengan itu, perlu ketegasan dalam menolak (dengan tetap menggunakan mekanisme yang berlaku dan adab kesopanan, sebaliknya menghindari cara-cara kekerasan dan berbuat anarkis), jika dalam realitasnya bertentangan dengan aturan agama.


Sumber: Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (Kementrian Agama RI Tahun 2019). Kurikulum 2013




Meraih Kedamaian dengan Mujahadah An-nafs dan Husnuzhan

Meraih Kedamaian dengan Mujahadah An-nafs dan Husnuzhan

Al-Qur’an menegaskan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Setan selalu menggoda manusia agar terjerumus ke dalam perbuatan dosa hingga masuk ke neraka. Kita harus berlindung kepada Allah Swt. dari godaan setan, yakni dengan membaca ta’awudz. Selain setan, manusia juga digoda oleh nafsu ammarah untuk melakukan perbuatan melanggar syariat Allah Swt. Seseorang yang perilakunya dikendalikan oleh nafsu ammarah akan hidup sengsara di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang beriman untuk mengendalikan dan menahan hawa nafsu supaya hidupnya diridhai Allah Swt.


Perilaku kontrol diri (mujahadah an-Nafs) akan menjadikan seseorang hidup damai di masyarakat. Kedamaian di masyarakat akan semakin kokoh jika dibarengi dengan sikap selalu berprasangka baik (husnuzhan) kepada sesama, serta menjaga semangat persaudaraan (ukhuwwah). Tentunya setiap orang ingin hidup berdampingan secara damai. Sebagai makhluk sosial, manusia akan selalu membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, perilaku mulia ini perlu dijaga dengan sebaik-baiknya demi meraih kedamaian hidup di masyarakat.


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (Q.S. al-Hujurat/49: 12)


Asbabunnuzul Q.S. al-Hujurat/49: 12

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij, bahwa ayat ini (al-Hujurat/49: 12) turun berkenaan dengan Salman al-Farisi yang bila selesai makan, suka tidur sambil mendengkur. Pada waktu itu ada orang yang menggunjing perbuatannya. Maka turunlah ayat ini (alHujurat/49: 12) yang melarang seseorang mengumpat dan menceritakan 'aib orang lain.


Menelaah Tafsir Q.S. al-Hujurat/49: 12

Dalam Q.S. al-Hujurat/49:12 terkandung larangan untuk berprasangka buruk (su’uzhan) kepada orang lain, berbuat tajassus, dan (ghibah). Tajassus berarti mencari-cari kesalahan orang lain, dan ghibah ber­arti menggunjing orang lain.


Prasangka buruk dilarang karena prasangka buruk adalah suatu sikap/budi bekerti yang tidak berdasar pada fakta yang tepat. Seperti tidak bijak ketika membaca berita di media yang memberitakan kejelekan orang lain. Padahal, kita diingatkan untuk menjauhi prasangka buruk dan mencari-cari kesalahan orang lain. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk menyibukkan dengan mencari kesalahan dan keburukan diri kita sendiri agar kita dapat berinstropeksi diri terhadap kekurangan kita. Tentu saja agar kita memperbaiki kekurangan dan kesalahan kita.


“Dari al-A’raj ia berkata; Abu Hurairah berkata; Satu warisan dari Nabi Saw., beliau bersabda: “Jauhilah oleh kalian prasangka, sebab prasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari 'aib orang lain, jangan pula saling menebar kebencian dan jadilah kalian orang-orang yang bersaudara.“ (H.R. Bukhari).


Selanjutnya, Rasulullah Saw. menjelaskan apa itu ghibah sebagaimana tercantum dalam hadis berikut ini :


“Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Nabi Saw. berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi Saw. ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya? Nabi Saw. menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”. (H.R. Muslim).


Hadis tersebut menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebut orang lain yang tidak hadir di hadapan penyebutnya dengan sesuatu yang tidak disenangi oleh yang bersangkutan. Dapat juga dikatakan bahwa ghibah adalah membicarakan dan menyebutkan kejelekan orang lain. Tentu tidak ada satu orang pun yang senang dibicarakan oleh orang lain.


Di antara penyebab utama prasangka buruk, mencari kesalahan orang lain, dan ghibah adalah adanya kebencian atau sakit hati terhadap orang tertentu. Oleh karena itu, perilaku ini harus dijauhi karena walaupun kejelekan tersebut memang sebuah kenyataan, tetapi hal ini sangat berbahaya dan bisa menjadi fitnah.


Fitnah adalah menyampaikan berita palsu (hoax) atau berita salah, tidak sesuai dengan kenyataan. Perbuatan fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Oleh karena itu, fitnah merupakan perbuatan keji yang harus dijauhi. Akibat buruk dari fitnah di antaranya adalah mencoreng nama baik seseorang, dan menyebabkan perpecahan satu orang dengan orang yang lain.


Jadi, pada dasarnya antara ghibah dan fitnah memiliki perbedaan, yaitu ghibah menyampaikan keburukan orang lain, dan keburukan tersebut memang kenyataan. Akan tetapi fitnah menyampaikan data atau berita palsu dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Keduanya merupakan perilaku tercela yang harus dijauhi.


Perbuatan buruk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggunjing dalam kehidupan sehari-hari sulit dihindari karena adanya penyakit hati dalam diri kita. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk mengontrol diri (mujahadah an-nafs) dari perbuatan dosa. Yaitu, mengontrol diri kita agar mencegah hawa nafsu untuk berprasangka buruk, agar tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan j tidak menggunjing orang lain.


Hawa nafsu memiliki kecenderungan untuk mencari berbagai macam kesenangan dengan tidak mempedulikan aturan agama. Jika kita menuruti hawa nafsu, sesungguhnya hati kita telah tertawan dan diperbudak oleh hawa nafsu itu. Jihad melawan hawa nafsu merupakan jihad yang besar. Mengapa demikian?. Hal ini dikarenakan jihad melawan nafsu, berarti jihad melawan keinginan terhadap hal-hal yang buruk dan menimbulkan bahaya bagi kemanusiaan. Bukankah menghindari sesuatu yang kita senangi jauh lebih berat daripada menghindari sesuatu yang kita benci?


Selain kontrol diri, seorang muslim hendaknya berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah Swt., diri sendiri, dan kepada sesama manusia.


1. Husnuzhan kepada Allah Swt.

Berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah, artinya bahwa Allah Swt. memiliki sifat Maha sempurna, Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Pengasih dan Penyayang kepada semua ciptaan-Nya.


Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Allah ta’ala berfirman: ”Aku sesuai persangkaan hamba-Ku, Aku bersamanya ketika mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku saat sendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun alaih)


Berdasarkan hadis di atas dapat disimpulkan bahwa jika seseorang berprasangka baik kepada Allah Swt., maka Allah Swt. juga akan berprasangka baik kepadanya.


a. Husnuzhan dalam bertaqwa kepada Allah Swt.

Bertaqwa pada Allah Swt. artinya melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi segala larangan-Nya. Husnuzhan dalam bertaqwa pada Allah Swt. artinya meyakini bahwa semua perintah Allah Swt. adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Begitu juga semua larangan-Nya pasti akan berakibat buruk apabila dilanggar.


b. Husnuzhan dalam berdoa Berdoa

merupakan permohonan atas segala yang diinginkan seseorang. Seorang muslim yang memahami Husnuzhan pada Allah Swt. dalam berdoa akan yakin bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah Swt., namun bila belum dikabulkan, maka ia akan berfikir inilah yang terbaik dan ia akan menerimanya dengan penuh keikhlasan.


c. Husnuzhan dalam berikhtiar dan bertawakal

Ikhtiar merupakan usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan hal yang dicita-citakan. Dalam berikhtiar sikap Husnuzhan kepada Allah Swt. harus dikembangkan, karena tidak semua ikhtiar yang dilakukan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, dalam berikhtiar harus selalu digandengkan dengan sikap tawakal yaitu menyerahkan hasil ikhtiarnya hanya kepada Allah Swt. semata, sehingga ketika ikhtiarnya berhasil maka ia akan bersyukur dan ketika gagal ia akan bersabar dengan tidak berputus asa.


2. Husnuzhan kepada orang lain

Husnuzhan kepada orang lain artinya seluruh ucapan, sikap dan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang akan diterima apa adanya tanpa diringi oleh prasangka atau dugaan-dugaan yang bersifat negatif.


“Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang dengan muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya.” (H.R. Tirmidzi)


Hadis tersebut menjelaskan seorang muslim harus menjaga lisannya. Ucapan kepada orang lain terutama sesama muslim, harus lemah lembut dan tidak mengandung kebohongan. Guna menghindari buruk sangka terhadap seseorang, Islam mengajarkan untuk melakukan tabayyun bila mendapat informasi negatif tentang seseorang, Islam sangat melarang umatnya untuk secara gegabah mempercayai apalagi merespon negatif sebuah informasi tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu.


3. Husnuzhan kepada diri sendiri

Seseorang yang berprasangka baik kepada diri sendiri, akan menyadari bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, seharusnya manusia senantiasa mensyukuri apapun yang sudah diberikan oleh Allah Swt. dan tidak perlu merasa rendah diri di hadapan orang lain. Boleh jadi kekurangan yang dimiliki oleh seseorang justru itulah kelebihan yang dimilikinya.


Hikmah perilaku kontrol diri (mujahadah an-nafs)

  1. meningkatnya sifat sabar, dengan tidak cepat memberikan reaksi terhadap permasalahan yang timbul
  2. dapat mencegah perilaku buruk atau negatif dari seseorang
  3. mendapatkan penilaian yang positif dari lingkungan
  4. terbinanya hubungan baik dalam berinteraksi sosial dengan sesama.

Hikmah perilaku berprasangka baik (husnuzhan)

  1. senantiasa bersikap optimis dalam menghadapi kehidupan
  2. terbentuknya sifat percaya diri dalam diri seseorang
  3. gigih, ulet, tangguh dalam melakukan ikhtiarnya, sehingga tidak mudah putua asa ketika menghadapi kegagalan
  4. rida terhadap takdir Allah Swt., karena tugas manusia hanya berusaha dan yang menentukan adalah Allah Swt.

Mujahadah An-nafs dan Husnuzhan



Gratis download presentasi PDF Materi PAI kelas X Meraih Kedamaian dengan Mujahadah An-nafs dan Husnuzan.


Lomatia Tasmanica Tanaman berusia 43.600 Tahun

Lomatia Tasmanica Tanaman berusia 43.600 Tahun

Lomatia Tasmanica, atau yang sering dikenal sebagai King's lomatia atau King's Holly, adalah tanaman yang tidak biasa. Tanaman ini menghasilkan bunga, namun tidak menghasilkan buah maupun biji. King's Holly berkembang biak dengan menjatuhkan cabang, dan membiarkan cabang yang jatuh berakar dan tumbuh menjadi tanaman baru.


Lomatia Tasmanica
Foto oleh Natalie Tapson


Tidak mengherankan, semua jenis Lomatia tasmanica yang ada, jumlahnya sampai 300 tanaman, biasanya tanaman ini bisa ditemukan dilahan sempit. Karena reproduksinya vegetatif, yaitu perkembangbiakan tanpa melalui perkawinan dengan cara menggunakan bagian tubuh induknya.. Tanaman ini telah mengkloning dirinya sendiri setidaknya selama 43.600 tahun, dan mungkin hingga 135.000 tahun. Hal ini menjadikan Lomatia tasmanica salah satu tumbuhan tertua yang masih hidup dengan cara kloning.


Lomatia tasmanica pertama kali ditemukan pada tahun 1934 oleh seorang pria berdarah Australia bernama Charles Range saat sedang menambang timah di kaki pegunungan Bathurst Range, Barat daya Tasmania. Karena dirinya adalah seoarang naturalis, Charles langsung mampu mengenali spesies tanaman tersebut dari genus Lomatia. Namun dia tidak menyadari bahwa itu adalah spesies baru, dia juga tidak menduga usianya yang luar biasa.


Pada tahun 1965 Charles menemukan populasi lain dari spesies yang sama sekitar 5 km dari yang pertama. sayangnya, kelompok tanaman asli telah mati. kali ini Charles mengirim stek tanaman ke ahli botani Winifred Curtis dari Universitas Tasmania untuk diidentifikasi. Curtis dapat mengkonfirmasi bahwa itu memang spesies baru Lomatia dan akhirnya dinamai Lomatia Tasmanica.


Pertumbuhan King's holly sangat lambat. Dendrochronology menyebutkan satu batang berumur 240 tahun, yang menandakan tingkat pertumbuhan hanya 0,26 mm per tahun. Pada kecepatan glasial ini, tanaman seperti itu dapat bertahan di lokasi terbatas selama beberapa ratus atau ribuan tahun. Memang, penanggalan karbon dari fragmen daun fosil menghasilkan penanggalan 43.600 tahun. Begitulah lamanya tanaman mengkloning dirinya sendiri, meskipun umur masing-masing tanaman hanya sekitar 300 tahun.


Lomatia tasmanica terancam punah. Hanya ada satu kelompok tumbuhan yang tersisa yang tersebar di sekitar 1,2 kilometer bentang alam. Daerah ini rentan terhadap kebakaran dan ancaman alam lainnya, sehingga mulai tahun 1990-an, Tasmania memulai upaya untuk mengembangkan populasi Lomatia lainnya di lingkungan yang terkendali. Tetapi upaya untuk membudidayakan tanaman itu sebagian besar gagal.

Foto oleh Natalie Tapson



Kerapuhan Lomatia tasmanica mengejutkan karena telah menyebar selama ribuan tahun. Tapson dan rekan-rekan ahli botaninya sekarang mencoba mencangkokkan tanaman Kings Holly ke akar spesies tanaman yang sama. Tapson berkata, “Dengan meletakkannya di batang akar yang berbeda, diharapkan saat Anda menanamnya atau memindahkannya, Anda tidak akan kehilangan itu karena akarnya lebih kuat.” King's holly sangat halus sehingga spesimen tanaman di Royal Tasmanian Botanical Gardens tidak dipajang untuk umum.
Bermartabat Dengan Busana Muslim (Materi Kelas X)

Bermartabat Dengan Busana Muslim (Materi Kelas X)

Pengertian Busana muslim - Busana muslim adalah busana atau pakaian yang seharusnya dikenakan oleh umat Islam, baik itu wanita (muslimah) ataupun laki-laki (muslim) dalam setiap aktivitas sehari-hari, baik kegiatan resmi maupun santai, seperti rekreasi, jalan sehat, aktivitifas sehari-hari. Artinya bahwa selama ini ada anggapan bahwa busana muslim hanya dipakai ketika menghadiri majelis taklim, majelis zikir, hari besar keagamaan, seperti Idulfitri, Iduladha, memperingati hari-hari besar Islam atau ketika pergi ke masjid atau mushala.


Adapun syarat busana atau berpakaian muslim adalah sebagai berikut


Menutupi aurat

Aurat secara makna adalah bagian tubuh yang haram dilihat, karena itu harus ditutupi. Menurut Islam, aurat bagi wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan berdasar pada firman Allah Q.S. al-Ahzab/33:59 yang artinya:


“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”


Kata “mengulurkan” dalam ayat ini, ditafsirkan dengan menutupi seluruh tubuh. Jilbab dapat diartikan sebagai selendang yang menutupi kepala sampai leher dan dada.


Pakaian yang tidak mengundang syahwat

Busana atau pakaian yang dikenakan boleh sebagai hiasan, tetapi bukan sebagai alat mengundang perhatian lawan jenis. Jadi, hakikat berbusana adalah menutup aurat dan melindungi seseorang dari cuaca panas dan dingin meskipun tidak melupakan unsur keindahan.


Tidak transparan

Bahan yang dipakai berbusana adalah tidak boleh transparan atau tembus pandang karena fungsi berpakaian dalam Islam adalah untuk menutup aurat. Rasulullah Saw. bersabda, yang artinya: “Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat: satu kaum mencambuk orang-orang dengan cambuk seperti ekor sapi, dan satu golongan kaum wanita yang berpakaian, tetapi telanjang, memberitahukan (memperlihatkan) kepada orang lain perilaku mereka yang tercela, menyimpang dari ketaatan kepada Allah, serta dari apa yang wajib mereka jaga, rambut mereka itu laksana punuk unta yang berjalan miring. Mereka tidak masuk surga dan tidak akan mencium aromanya, padahal semerbak surga bisa tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian” (H.R. Muslim)


Harus longgar dan tidak ketat sehingga tidak memperlihatkan lekukan tubuh yang ditutupi. Sebagaimana penjelasan hadis berikut ini. Rasulullah Saw. memberiku baju Quthbiyyah yang tipis, hadiah dari Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan kepada istriku. Nabi Saw bertanya kepadaku: Mengapa kamu tidak mengenakan baju Quthbiyyah?” Aku menjawab: “Aku pakaikan baju itu untuk istriku.” Nabi Saw lalu bersabda: “Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Quthbiyyah itu, karena aku khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tubuhnya.” (H.R. al-Baihaqi, Ahmad, Abu Dawud dan Adh-Dhiya)


Tidak diberi wewangian atau parfum yang baunya sangat mencolok, khususnya bagi wanita, karena perbuatan tersebut dapat mengundang perhatian


Tidak menyerupai laki-laki atau sebaliknya Busana atau pakaian serta hiasan yang dikenakan oleh laki-laki tidak menyerupai pakaian atau hiasan yang biasa dikenakan oleh wanita. Begitu juga sebaliknya, wanita tidak boleh menyerupai pakaian dan hiasan yang dipakai laki-laki.


Bukan busana atau pakaian syuhrah

Pakaian syuhrah merupakain pakaian yang dikenakan dalam rangka untuk mencari sensasi sehingga tenar dan pemakainya dikenal orang.


Bukan untuk tabarruj Tabarruj adalah memperlihatkan hiasan dan keindahan dirinya, serta apapun yang wajib ditutupi agar tidak mengundang fitnah.


Bukan kain sutra bagi laki-laki

Telah ditetapkan dalam hadis Nabi Muhammad Saw. bahwasanya untuk laki-laki haram hukumnya memakai pakaian dari kain sutra.


“Boleh bagi wanita dari umatku dan haram bagi pria dari umatku.” (H.R. Tirmidzi, Nasa’i, dan Abu Dawud).


berbusana muslim materi agama


Mengambil Pelajaran dari Peradaban Islam (Materi PAI Kelas XI)

Mengambil Pelajaran dari Peradaban Islam (Materi PAI Kelas XI)

Peradaban Islam - Islam dimulai dari seorang diri, yakni Nabi Muhammad Saw. Lalu atas keberhasilan dakwah yang dilakukan oleh beliau, baik pada periode Makkah maupun Madinah, Islam menyebar ke seluruh Jazirah Arab, selajutnya Islam berkembang dengan pesat ke penjuru dunia atas peran para sahabat dan generasi sesudahnya.


Sekitar tahun 610 M, risalah Islam dimulai yang merupakan kelanjutan dan penyempurna dari risalah sebelumnya, yakni saat Muhammad Saw. diangkat sebagai Rasul yang ditandai adanya penerimaan wahyu pertama, yakni: Q.S. al-‘Alaq/96: 1-5 yang diawali dengan kata iqra’ yang berarti bacalah.



Selanjutnya, Risalah Islam (dalam makna kepemimpinan, bukan kenabian) diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin, mulai Abu Bakar ash-Shiddiq (11-13 H), Umar bin Khattab (13-24 H), Utsman bin ‘A an (24-36 H) sampai Ali bin Thalib (36-41 H), semuanya terentang dalam kurun 11-41 H/633-660 M. Dilanjutkan oleh Daulah Umayyah (661- 750 M) dan Daulah Abbasiyah (750-1258 M).


Perkembangan Islam mencapai puncak kejayaan, terjadi di masa Khalifah Abdur Rahman ad-Dakhil (756 M-785 M) pada masa Daulah Umayyah, dan Khalifah Harun Ar-Rasyid (786 M-809 M) pada masa Daulah Abbasiyah, misalnya yang ditandai dengan pendirian Darul Hikmah atau Akademi Ilmu Pengetahuan pertama di dunia, yang terdiri dari perpustakaan, pusat pemerintahan, observatorium bintang, dan Universitas Darul Ulum.


Pada masa itu, hanya ada 2 (dua) negara superpower dunia atau memiliki keunggulan yang memengaruhi dunia, yakni: di Barat berkedudukan di Cordova (Spanyol) dan Timur berkedudukan di Baghdad (Irak). Kekuasaan Daulah Umayyah menguasai Damsyik (Syiria) tahun 629 M, Syam dan Irak tahun 637 M, Mesir sampai Maroko tahun 645 M, Persia tahun 646 M, Samarkand tahun 680 M, seluruh Andalusia (Spanyol) tahun 719 M, dan akhirnya tertahan di Poiteier pada tahun 732 M dalam usahanya memperluas pengaruhnya ke Prancis.


Kedua negara Islam itu (Cordova dan Baghdad), samasama negara yang berlandaskan ajaran Islam, mampu menjulang ke angkasa membawa kibar kebesaran, menorehkan tinta emas peradaban Islam, kemakmuran dan kesejahteraan, martabat Islam mampu mengungguli peradaban lain (negara Eropa Barat pada masa itu masih tenggelam dalam kegelapan yang dikenal dengan Dark Ages), sekaligus menyelesaikan berbagai problematika yang terjadi pada saat itu.


Belum pernah sejarah menorehkan reputasi seperti itu, terkecuali Islam. Disebabkan peran seperti itu, umat Islam pernah berjaya di bidang peradaban dan ilmu pengetahuan selama lebih kurang 7 abad (antara abad VII s.d. XIII). Kejayaan tersebut membuahkan pusat-pusat keunggulan baik di bidang pendidikan, peribadatan, perekonomian, pertanian, kedokteran, dan lain-lain.


Semua hasil yang dicapai umat Islam ketika itu tercatat dalam lembaran sejarah dunia sampai saat ini, dan jejak-jejaknya dapat dilihat dan dinikmati oleh umat lain, bahkan hasil yang dicapai bangsa Barat (Amerika Utara dan Eropa Barat saat ini), tidak lepas dari sumbangan besar umat Islam.


Faktor Pendorong Kemajuan Islam


Faktor Internal

1. Sejak abad ke-9 M, di negeri-negeri muslim telah tumbuh pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, misalnya Madinah, Makkah, Baghdad, Damaskus, Kufah, Cordova, dan Isfahan.


2. Umat Islam sangat konsisten dan istiqamah kepada Islam, sebagai hasil dari proses telaah dan kajian yang mendalam sehingga menemukan substansi Islam yang mendorong kemajuan dan menjadi umat yang terbaik.


3. Motivasi ajaran Islam agar umatnya unggul, maju, dan berkualitas dalam segala aspek kehidupan. Sebaliknya, menghindari martabat hidup yang tertinggal dan terpuruk, apalagi menjadi beban pihak lain.


4. Ajaran Islam yang membawa keseimbangan antara capaian lahir dan batin, serta kesuksesan duniawi dan ukhrawi.


5. Adanya kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat yang dijamin oleh aturan yang berlaku, meskipun ada juga yang berbeda dengan pendapat umum, tetapi tetap menghargai pendapat yang cerdas dan brilian.


6. Adanya khalifah, ‘amir, raja-raja muslim, menteri-menteri berpengaruh yang memberikan dorongan dengan dana berlimpah bagi perkembangan kemajuan Islam.


7. Misi Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam.


Faktor Eksternal

1. Adanya hubungan yang dinamis antara kebudayaan Arab (Islam) dengan kebudayaan lain yang telah maju sebelum datangnya ajaran Islam, misalnya Mesir, Babylonia, Yunani, India, dan Persia.

2. Terbongkarnya rahasia pembuatan kertas di China melalui para tawanan yang ditangkap di Samarkand, yang setelah dipelajari berulang-ulang, akhirnya orang-orang muslim pun mampu membuatnya, bahkan pabrik kertas di Baghdad menjadi pabrik kertas pertama terbesar di dunia Islam.

3. Berpindahnya para ilmuwan dari orang non-Arab (Persia, Yunani dll) ke Baghdad untuk menerjemahkan buku-buku ke dalam Bahasa Arab.

4. Penguasa (khalifah) memberikan peluang kepada orangorang non-Arab (kaum Mawali) untuk menduduki jabatanjabatan penting di pemerintahan.

5. Kemajuan ekonomi yang dibarengi dengan munculnya industri-industri dan perdagangan yang merambah ke berbagai wilayah, sehingga berakibat meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

6. Stabilitas politik dan keamanan yang kondusif.



Tumbuh dan Berkembang Beragam Ilmu


Filsafat Islam

Filsafat Islam adalah sistem berpikir tentang hakikat segala sesuatu berdasarkan ajaran Islam yang teruang di dalam al-Qur'an dan Hadits.


tujuan islam mengajarkan berpikir filsafat agar setiap muslim memiliki wawasan yang luas, menyeluruh, teratur dan terpadu. selalu bertanya dan dapat menghargai pendapat orang lain dan tidak cepat puas terhadap prestasi yang telah dibuat.


Sebagai induk ilmu pengetahuan, tentu filsafat memengaruhi ilmu-ilmu lain, sehingga semua ilmu membutuhkan cara berpikir filsafat, tidak terkecuali ilmu-ilmu ke-Islaman seperti Fiqh, Ilmu Tauhid, Tafsir dan lain-lain. Apalagi ajaran Islam lebih banyak bersifat global, yang tentunya membutuhkan pemikiran mendalam dan lebih terperinci, sekaligus memfungsikan akal pikiran dalam mencapai solusi problematika dunia.


Beberapa Tokoh Filsafat Islam (Filsuf) Ada 4 (empat) tokoh filsuf muslim yang sangat berjasa dalam pengembangan Filsafat Islam, yaitu: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd. Keempatnya berhasil menggabungkan gagasan Aristotelis dan Plato dengan gagasan-gagasan lainnya yang diperkenalkan melalui Islam dengan beragam karya yang disusunnya.


Selanjutnya, karya-karya mereka yang berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sehingga ikut membantu perkembangan filsafat Eropa modern. Hasil dari penerjemahan dan dialektika zaman memunculkan filsuf non-Muslim, misalnya Filsuf Yahudi bernama Moses Maimonides yang tinggal di Andalusia (Spanyol).


Ilmu Fiqh

Fiqh menurut bahasa berarti tahu dan faham, jadi maksudnya ilmu yang mempelajari aturan syariat Islam yang diperoleh dari dalil yang terperinci. Melalui ilmu ini terwujud sistem hukum yang lebih sistemik dan terperinci, di antaranya dihasilkan hukum yang 5 (lima), yaitu: wajib, sunnah, makruh, haram, dan mubah.


Manfaat Ilmu Fiqh antara lain Menuntun, membimbing, dan mengatur kehidupan manusia agar menjadi tertib dan teratur. Memudahkan manusia dalam menjalani kehidupan sehariharinya. Tercapainya pribadi muslim yang baik, lalu menyebar ke keluarga, yang pada akhirnya membuahkan tatanan masyarakat dan bangsa yang baik.



Beberapa Tokoh Ilmu Fiqh (Fuqaha’)

Imam Hanafi , nama lengkapnya adalah Abu Hanifah anNu’man bin Tsabit, rentang hidupnya dimulai tahun 70--150 H/699--767 M, dikenal dengan Mazhab Hanafi . Mazhab ini berpengaruh di wilayah Turki, Pakistan, Yordania, Libanon, dan Afghanistan.


Imam Malik, nama lengkapnya adalah Malik bin Anas alAshabi, rentang hidupnya dimulai tahun 93-179 H/715-795 M, dikenal dengan Mazhab Maliki. Mazhab ini berpengaruh di wilayah Maroko, Aljazair, Tunisia, Bagian Utara Mesir, Bahrain, dan Kuwait.


Imam Syafi’i, nama lengkapnya adalah Muhammad bin Idris asy-Syafi ’i, rentang hidupnya dimulai tahun 150-204 H/767--820 M, dikenal dengan Mazhab Syafi ’i. Mazhab ini berpengaruh di wilayah Bagian Selatan Mesir, Jazirah Arab, Palestina, Yordania, Syiria, Afrika Timur, Indonesia, dan Malaysia.


Imam Hambali, nama lengkapnya adalah Ahmad bin Hambal, rentang hidupnya dimulai tahun 164--241 H/780-855 M, dikenal dengan Mazhab Hambali. Mazhab ini berpengaruh di wilayah Saudi Arabia, Qatar, dan Oman.



Ilmu Tasawuf

Ilmu Tasawuf adalah  Ilmu yang membahas mengenai tata cara pencucian diri dari segala sifat tercela sehingga dapat berhubungan sedekat mungkin dengan Allah Swt.


Ajaran Islam yang berupaya melihat segala amal secara batin, isi, dan substansi. Tidak berhenti hanya di sisi lahir dan formal saja, tetapi ditelaah juga dari apa manfaat, faedah, hikmah, dan tujuan di balik amal ibadah yang dilakukan.


Banyak ilmuan yang mengakui peran besar ilmu tasawuf dalam perkembangan Islam di berbagai penjuru dunia. Tasawuf mengedepankan kasih sayang, toleransi, kerendahan hati, cinta dalam makna yang luas. Itulah sebabnya banyak orang tidak terkecuali non muslim, menyukai ajaran tasawuf. oleh setiap muslim.


Bagi yang ingin menempuh jalan tasawuf, harus menempuh latihan dan tahap-tahap tertentu yang dipandu dan dibimbing oleh mursyid (guru tasawuf), yaitu sebagai berikut:

a. Bertobat;

b. Tazkiyatun al-Nafs: upaya membersihkan hati dengan cara mengendalikan nafsu dan ego pribadi, agar dapat semakin dekat dengan Allah Swt.

c. Zuhud (menjauhi pengaruh dunia);

d. Wara’ (menghindari dari yang haram dan syubhat); dan

e. Sabar, tawakal, qana’ah dan ridha atas ketentuan Allah Swt.


Rabi’ah al-Adawiyah, Abu Yazid al-Busthami, Abdul Farid Zunnun al-Misri, al-Hallaj, dan Imam al-Ghazali. Sementara, tokoh tarekat yang terkenal yang jalan tarekatnya diikuti oleh banyak kalangan muslim, antara lain: Tarekat Qadiriyah yang didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Jailani, dan Tarekat Naqsabandiyah oleh Bahauddin Naqsabandi dari Bukhara (Asia Tengah) pada tahun 1390 M.



Ilmu Kedokteran

Embrio tentang ilmu kedokteran sudah diterapkan Rasulullah Saw. pada abad ke-7, misalnya konsep tentang karantina dengan memperingatkan supaya hati-hati ketika memasuki atau meninggalkan suatu daerah yang terkena wabah penyakit.


Sejak abad ke-10, dokter-dokter muslim sudah berinovasi dengan mengisolasi individu-individu penderita penyakit dan mengasingkannya ke arah utara. Sementara, fakultas kedokteran di dunia muslim, pertama kali didirikan oleh Jurjis ibnu Naubakht. Sedangkan konsep karantina yang dikembangkan di Venice, Italia pada tahun 1403 bukanlah yang pertama di dunia.


Ilmu Kedokteran adalah ilmu yang membahas tata cara memelihara tubuh agar tetap sehat dan berfungsi dengan baik, serta tata cara penanggulangan, pencegahan sekaligus penyembuhan penyakit dengan cara alkohol terapi atau cara lainnya.


Cara alkhol terapi tersebut dapat kita telaah dari dokterdokter muslim dan ahli bedahnya sejak abad ke-10, sudah menggunakan alkohol sebagai pencegah infeksi ketika membersihkan luka-luka. Jadi, pencegahan infeksi yang dilakukan oleh ahli bedah dari Inggris, seperti Joseph Lister pada tahun 1865 bukanlah yang pertama.



Ilmu Sejarah

Ilmu Sejarah adalah Ilmu yang mempelajari tentang berbagai peristiwa masa lampau yang meliputi waktu, tempat, pelaku, sebabsebabnya, yang disusun secara sistematik.


Beberapa Tokoh Sejarah: Ath-Thabari (839-923 M), Ibnu Qutaibah (828-889 M), Ibnu Khaldun (1332--1406 M), dan lain sebagainya.



Ilmu Geografi

Ilmu Geografi adalah Ilmu yang mempelajari perihal keadaan suatu daerah dengan segala ke khasannya. salah satu manfaat dari ilmu geografi kita dapat mengenal potensi sumber daya alam yang dapat dieksplorasi, sekaligus menggugah ketakjuban akan keagungan Sang Pencipta Allah Swt. yang wajib disyukuri. untuk kemaslahatan bersama.



Ilmu Kesenian

seni adalah ungkapan jiwa yang paling dalam sehingga menimbulkan suasana yang menyenangkan dan mencerahkan. Manfaatnya bisa memberikan semangat dalam kehidupan untuk mencapai suasana yang menyenangkan.


Baca juga: Pusat-pusat Peradaban Islam Pada Abad Pertengahan