Meneladani Dakwah Rasulullah SAW. di Makkah (Materi PAI)

Meneladani Dakwah Rasulullah SAW. di Makkah (Materi PAI)

Pada tanggal 17 Ramadan tahun 610 M (13 tahun sebelum hijrah) Nabi Muhammad Saw. yang saat itu berusia 40 tahun mendapat wahyu pertama, yaitu surat al-‘Alaq/96: 1-5. Peristiwa ini menandai diangkatnya Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul. Setelah turunnya wahyu kedua, yaitu surat al-Mudatsir/74: 1-7 Rasulullah Saw. diperintah oleh Allah Swt. untuk berdakwah. Bukanlah hal mudah untuk menyampaikan ajaran tauhid kepada penduduk Makkah. Hal ini dikarenakan mayoritas penduduk Makkah telah memiliki agama, yaitu menyembah berhala.


Masyarakat Arab ketika itu dikenal dengan masyarakat Arab jahiliyah karena masih berada dalam kebodohan. Kebodohan yang dimaksud adalah kebodohan dalam bidang moral, norma, etika, hukum dan agama.


Kondisi Masyarakat Arab Jahiliyah

Berdasarkan asal usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu Qahthaniyun (keturunan Qahthan), dan ‘Adnaniyun (keturunan Ismail bin Ibrahim). Pada awalnya, golongan ‘Adnaniyun menduduki wilayah utara, dan wilayah selatan diduduki oleh golongan Qahthaniyun. Namun, seiring perkembangan waktu, kedua golongan itu membaur menjadi satu karena perpindahan dari utara ke selatan dan sebaliknya.


Kondisi masyarakat Arab sebelum Islam dikenal dengan istilah jahiliyah. Masyarakat jahiliyah berarti masyarakat yang masih berada dalam kebodohan. Kebodohan tersebut adalah kebodohan dalam bidang moral, norma, etika, hukum, dan agama.


Jadi, inti dari karakter jahiliyah adalah memiliki sifat keras kepala, mengutamakan hidup jangka pendek, tidak mau merubah perilaku pada perilaku yang benar menurut aturan agama.


Sistem hidup masyarakat jahiliyah sangat ditentukan oleh dua hal, yaitu kekuasaan kesukuan dan kekuasaan ekonomi. Masing-masing suku atau kabilah bersaing untuk menjadi yang paling kuat dan paling disegani. Sumber kekuatan mereka adalah kesetiaan dan solidaritas di antara anggota kelompok. Penduduk Arab jahiliyah memiliki tabiat suka berperang.


Seorang wanita tidak punya hak mewarisi harta peninggalan suaminya, bapaknya atau anggota keluarga lainnya. Apabila terjadi peperangan antarsuku, maka suku yang kalah akan dijadikan budak oleh suku yang menang.


Masyarakat Arab jahiliyah memiliki kebiasaan buruk, di antaranya minum minuman keras, berjudi, dan membunuh. Lebih dari itu, mereka beranggapan bahwa minum minuman keras, berjudi, mencuri, merampok, berzina, membunuh bukan merupakan perbuatan salah. Hal ini merupakan bentuk kejahiliyahan di bidang norma, etika, dan hukum.


Nabi Muhammad Saw. diangkat Sebagai Rasul

Ketika menginjak usia 40 tahun, Nabi Muhammad Saw. lebih banyak mengerjakan tahannuts (menyendiri, menjauhkan diri dari keramaian) daripada waktu-waktu sebelumnya. Pada malam 17 Ramadan atau bertepatan 6 Agustus 610 Masehi, ketika bertahannuts di gua Hira, datanglah Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad Saw. untuk menurunkan wahyu pertama yaitu surat Al-Alaq ayat 1–5. Gua Hira tertelak di jabal Nur (Bukit Cahaya) yang terletak kira-kira dua atau tiga mil sebelah utara kota Makkah.


Substansi Dakwah Rasulullah Saw. di Makkah

a. Mengajarkan tauhid kepada Allah Swt.

Rasulullah Saw. mengajak masyarakat Arab yang saat itu menyembah berhala agar mengesakan (tauhid), menyembah hanya kepada Allah Swt. semata, serta mengakui kerasulan Muhammad Saw. Islam mengajarkan bahwa Allah Swt. adalah Maha Esa, Dialah tempat memohon bagi semua makhluk-Nya, Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada satupun yang menyamai-Nya. 


b. Memperbaiki akhlak masyarakat Makkah

Rasulullah Saw. memperbaiki akhlak masyarakat Makkah yang saat itu terbiasa berperilaku jahiliyah, seperti minum minuman keras, berjudi, berzina, dan membunuh.


c. Menegakkan keadilan dan persamaan derajat

Islam mengajarkan persamaan derajat di antara sesama manusia. Masyarakat Arab jahiliyah saat itu masih membedakan derajat laki-laki dan perempuan, dan antara budak dan majikannya. Semua manusia sama derajatnya di sisi Allah Swt., yang membedakan adalah ketaqwaannya.


d. Mengajarkan adanya hari kiamat

Islam mengajarkan bahwa setelah alam dunia ini hancur dan akan digantikan dengan alam akhirat. Setiap manusia akan diminta pertanggungjawaban atas perbuatan selama mereka hidup di dunia. Bagi yang beramal saleh dan berperilaku mulia akan mendapat balasan surga. Sebaliknya bagi yang bermaksiat dan perilaku tercela akan dibalas dengan neraka.


Strategi Dakwah Rasulullah Saw. di Makkah

a. Dakwah secara sembunyi-sembunyi (selama kurang lebih tiga tahun)

Pada mulanya Rasulullah Saw. menyampaikan ajaran Islam kepada anggota keluarga, sahabat, dan orang-orang yang paling dekat dengan beliau.


Dakwah secara sembunyi-sembunyi berhasil mengislamkan: Khadijah (istri Nabi), Abu Bakar (sahabat dekat Nabi), Ali bin Abi Thalib (sepupu Nabi), Zaid bin Haritsah (budak yang dipelihara Nabi), Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidillah bin Jarrah, Arqam bin Abil Arqam, Fatimah binti Khaththab (adik Umar bin Khaththab) beserta suaminya Said bin Zaid Al-‘Adaw.


Orang-orang yang disebutkan di atas disebut Assabiqunalawwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam). Rasulullah Saw. menemui mereka secara perorangan dan mengajarkan Islam dengan sembunyi-sembunyi. Akhirnya mereka memeluk Islam secara sembunyi-sembunyi pula. 


b. Dakwah secara terang-terangan (selama 10 tahun)

Setelah turun ayat Q.S al Hijir ayat 94, Rasulullah Saw. mengundang tokoh-tokoh penting dari kafir Quraisy. Mereka hadir memenuhi undangan tersebut dan terjadi dialog antara Nabi Saw. dengan mereka. Rasulullah Saw. menyampaikan ajaran Islam yang mulia kepada mereka. Pada akhir pertemuan tersebut, mereka mengingkari segala apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw., kecuali paman Nabi Saw.,


Dakwah mulai gencar dilakukan oleh Rasulullah Saw. hingga bergema ke seluruh wilayah kota Makkah. Rasulullah Saw. bangkit berdakwah melawan segala kemusyrikan dan segala bentuk penyembahan kepada selain-Nya. Rasulullah Saw. dengan tegas menyatakan bahwa siapa saja yang menyembah berhala dan menjadikannya penolong. Sungguh mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Dakwah ini mendapat rintangan dan mendapat tantanngan dari kaum kafir Quraisy.


Reaksi Kaum Kafir Quraisy

Kaum kafir Quraisy menolak dan menentang ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Penolakan dan penentangan ini dipelopori oleh tokoh-tokoh kafir Quraisy, diantaranya Abu Lahab, Abu Jahal dan Abu Sufyan. Ada beberapa faktor yang mendorong kaum kafir Quraisy menentang Islam dan kaum Muslimin, antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Persaingan perebutan kekuasaan
  2. Persamaan hak dan derajat
  3. Taklid kepada nenek moyang


Kaum kafir Quraisy juga melakukan pemboikotan terhadap Nabi Muhammad Saw. dan umat Islam. Kaum kafir Quraisy melarang anggota kelompoknya untuk berbicara dengan orang Islam, melakukan jual beli dengan orang Islam; dan menikah dengan orang Islam.


Penyebab Keberhasilan Dakwah Nabi

Berikut adalah penyebab keberhasilan perjuangan dakwah Rasulullah Saw. di kota Makkah :

  1. Berakhlak mulia
  2. Memiliki analisa sosial yang cerdas
  3. Memiliki niat yang kuat
  4. Penuh kasih sayang
  5. Menyampaikan kebenaran
  6. Menggunakan strategi yang tepat


Hikmah Dakwah Rasulullah Saw. di Makkah

  1. Menumbuhkan keyakinan bahwa Allah Swt. pasti akan menolong hamba-Nya yang sabar, tabah, dan memiliki semangat tinggi dalam berdakwah
  2. Meyakini bahwa semua hidayah datangnya dari Allah Swt., sementara Rasulullah Saw. hanya bertugas menyampaikan risalah.
  3. Islam mengajarkan persamaan hak dan derajat bagi semua manusia. Setiap orang memiliki kedudukan yang sama di sisi Allah Swt., hanya ketaqwaanlah yang menjadi ukuran kemuliaan di hadapan Allah Swt.
  4. Setiap perjuangan dakwah membutuhkan pengorbanan. Rasulullah Saw. dan para sahabat telah mengorbankan harta benda dan jiwa untuk menengakkan ajaran Islam. 


Dakwah Rasulullah di Mekah


Terbiasa Saling Menasehati dan Berbuat Baik (Ihsan) PDF PPT Materi PAI

Terbiasa Saling Menasehati dan Berbuat Baik (Ihsan) PDF PPT Materi PAI

Agama Islam mengajarkan supaya pemeluknya saling menasehati dan berbuat baik terhadap siapa saja. Bahkan kepada makhluk lain pun harus berbuat baik karena saling menasihati dan berbuat baik itu banyak manfaat dan hikmahnya. Di antara manfaat dan hikmat disyariatkan saling menasihati dalam kebaikan itu adalah sebagai berikut.


Mempererat hubungan antara sesama

Nasihat menasihat antara sesama itu dapat menumbuhkan rasa kebersamaan sehingga dapat mempererat hubungan antara satu dengan yang lainnya.


Tergolong orang yang tidak rugi dalam hidupnya

Orang yang saling menasihat dalam kebaikan itu tidak akan rugi dalam hidupnya. Hal ini dijelaskan dalam Surah al-‘Asr sebagai berikut:


Artinya : “Demi masa, sungguh, manusia berada dalam dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”. (Q.S. al-‘Asr/103; 1-3)


Selalu terkontrol

Akan teringat jika akan berbuat kemaksiatan, sehingga tidak jadi berbuat kemaksiatan, karena diingatkan oleh temannya. Akan memperoleh pahala dari Allah Swt, karena nasihat menasihati itu melaksanakan perintah Allah Swt. Sebagaimana diamanahkan dalam surah al-‘Asr ayat 1-3.


Dalam al-Qur’an surah al-‘Asr, Allah Swt. menjelaskan kepada kita tentang ciri orang beriman, yaitu orang-orang yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Artinya, setiap muslim beriman hendaknya berupaya semaksimal mungkin untuk saling mengajak kepada kebaikan, mengajak kepada hal yang akan mendekatkan kepada Allah Swt. dan, melarang dari perbuatan yang tidak disukai Allah Swt.


Salah satu hikmah mengapa kita harus saling menasihati adalah karena setiap orang mendambakan keselamatan hidup. 


berbuat baik ihsan


Gratis PDF Materi PAI Terbiasa Saling Menasehati dan Berbuat Baik (Ihsan) Unduh

Nikmat Kerja Keras & Tanggung Jawab + PPT (Materi PAI)

Nikmat Kerja Keras & Tanggung Jawab + PPT (Materi PAI)

Bekerja merupakan salah satu bagian syarat wajib bagi kita untuk bisa hidup dalam kehidupan. Tidak hanya bekerja keras, tetapi kita juga harus punya motivasi dan tekad yang kuat juga harus bersungguh-sungguh, bekerja keras dan semangat tinggi untuk bisa berhasil bagaimanapun kondisi dan jenis pekerjaan yang sedang dan akan digeluti saat ini. Semua  pekerjaan, apapun itu, jika niat dan usaha kita baik Allah akan memberikan hasil yang baik pula sesuai dengan usaha yang kita lakukan. 


Jangan pernah berpikir dan berimajinasi bahwa Tuhan tidak adil karena pikiran seperti ini justru akan membuat kita kufur dengan apa yang kita miliki, termasuk pekerjaan kita. Kita perhatikan masih banyak orang-orang yang terlunta-lunta mencari pekerjaan. Oleh karena itu, kita saat ini sudah memiliki pekerjaan maka syukurilah dan jalani dengan niat dan tekad yang yang sungguh sungguh. Niat baik untuk memulai usaha adalah karena Allah semata mata melalui doa, usaha dan ikhtiar. Adapun hasilnya percayakan pada Allah Swt. Insya Allah hasil yang didapat akan maksimal.


Kerja keras termasuk salah satu hal yang diajarkan oleh ajaran Islam. Bahkan, umat Islam diwajibkan untuk selalu bekerja keras. Kewajiban untuk selalu bekerja keras ini terdapat dalam Q.S. al-Qashash/28 : 77, 


“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan”.


Dari ayat al-Qur’an di atas kita mengetahui bahwa kerja keras ternyata juga merupakan kewajiban dalam Islam. Pada ayat tersebut kita diajarkan untuk tidak boleh hanya memikirkan kehidupan akhirat saja, tetapi kita juga harus memperjuangkan kehidupan kita di dunia.

Kedua hal ini, dunia dan akhirat, harus seimbang untuk diperjuangkan tidak boleh hanya memilih akhirat atau dunianya saja. Selain dengan memaksimalkan ibadah kita untuk akhirat, sangat baik pula bagi kita untuk bekerja keras demi kesejahteraan hidup di dunia.


Pengertian Kerja Keras

Kerja berarti melakukan sesuatu kegiatan atau sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah. Kerja yang dilakukan oleh manusia bertujuan untuk memperoleh makanan, pakaian, jaminan, pengakuan, dan kebahagiaan hidup.


Nikmat kerja keras dan tanggung jawab



Kerja keras bermakna melakukan sesuatu kegiatan untuk mencari nafkah dengan sungguh-sungguh. Kerja keras untuk mencapai harapan dan tujuan atau prestasi yang maksimal disertai dengan tawakal kepada Allah Swt., untuk kepentingan dunia maupun akhirat.


Berikut ini saya bagikan kepada kalian yang mungkin memerlukan powerpoint presentasi atau PPT tentang Nikmat Kerja keras dan Tanggung Jawab. Semoga membantu.


Nikmat Kerja Keras dan Tanggung Jawab bagian 1 | Download

Nikmat Kerja Keras dan tanggung Jawab bagian 2 | Download