Cerpen: Lereng Bukit (Anak-anak Palestina)

17.58.00
Cerpen anak palestina judul lereng bukit

Muhsin mengayunkan langkah-langkah bombang.yang lamban di sepanjang koridor yang mengarah ke ruang kelasnya. ini merupakan pengalaman pertamanya dalam dunia mengajar, dan ia tidak mengerti mengapa ia harus masuk ke dalam kelas saat itu. ia berusaha sebisa-bisanya menunda momen tersebut selama mungkin.

semalam ia melewatkan waktu dengan berguling-guling gelisah di atas tempat tidur sambil berpikir tentang satu hal. seberapa susahkah seseorang berdiri di depan orang - orang... dan untuk apa? — mengajar mereka! kau kira kau siapa? ia mendakwa diri sendiri. kau menjalani kehidupanmu yang penuh nestapa tanpa ada yang mengajarkan apapun yang berfaedah kepadamu. apakah kau sungguh - sungguh mengira bahwa kau memiliki sesuatu untuk diajarkan kepada orang lain? kau, dari semua orang yang ada, selalu percaya bahwa sekolah adala tempat terakhir bagi seseorang mempelajari kehidupan. dan kini, kau akan menjadi guru?

paginya, ia memaksakan diiri pergi ke kantor kepala sekolah, duduk menyimak guru lain mendiskusikan banyak persoalan yang sama, tapi dari sudut pandang yang lain.

"memangnya, apa yang bisa kita lakukan jika anak - anak tidak memiliki buku?

jawaban kepala sekolah terdengar singkat, bahkan penuh penghinaan, "guru yang becus tahu cara memimpin kelasnya tanpa buku." Lalu, ditambahkannya dengan keji, "suruh saja salah satu anak mengatur kelas jika kalian tidak mampu."

mendengar hal itu, Muhsin berfikir sendiri. rupanya, sang kepala sekolah hendak memberi pelajaran pada guru - gurunya dalam hal kedisiplinan dan kepatuhan sejak awal. ia menguasai gajih kami selama seminggu, dan kini ia bermaksud mendapatkan jiwa kami pula. Muhsin meneguk tehnya lalu berdiri.

koridor panjang sekolah disesaki oleh teriakan dan kebisingan anak - anak. Dengan langkah - langkah beratnya. muhsin merasa bagai tengah melintas pusaran air bergolak yang mengarahkannya pada masa depan tanpa makna,anya terdapat lebih banyak keributan dan omong kosong belaka.

"saya memiliki cerita bagus, Guru!" ucapan ini diteriakkan oleh seorang anak yang duduk merosot di salah satu kursi belakang. dan melihat kekacauan kelas sebagai peluang untuk membeberkan ceritanya. sebelum Muhsin sempat menolak usulan itu, si anak sudah meninggalkan kursinya, berdiri menghadap teman-temannya . ia memakai celana pendek gombrang dan kaus dari bahan lama, jenis yang dipakai perempuan, Rambut hitam tebalnya menjuntai hingga menyentuh alis mata.

"Ayahku orang baik, rambutnya sudah beruban, matanya hanya satu. mata yang satunya lagi tercongkel olehnya sendiri pada suatu hari, ketika ia sedang menjahit sol tebal sepatu laki - laki yang berat. ia berusaha keras memasukan jarum besar melalui kulit sepatu, tapi solnya terlalu alot. ia mendorong jarum sekuat tenaga, sayangnya tidak beruntung. ia mendorong lebih keras, tapi jarumnya tidak bergerak. lalu ia menaruh sepatu di depan dadanya sambil mendorong jarum dengan seluruh tenaga. mendadak jarum bergerak menembus sol sepatu, lalu mengenai matanya," kata anak itu memulai ceritanya.

"Ayahku orang baik?" sambungnya. "janggutnya panjang tidak panjang, tapi juga tidak terlalu pendek. ia bekerja dengan sangat keras. pekerjaannya bagus. ia selalu menerima banyaksepatu untuk di reparasi dan dibuat seperti baru lagi."

Ia lanjut berkata. "tapi, ayahku tidak memiliki toko reparasi sepatu sendiri, dan tidak ada yang membantu pekerjaannya. sebenarnya, toko ayahku tidak lebih besar daripada kotak yang terbuat dari kayu, pelat logam, dan kardus. nyaris tidak ada cukup ruang untuknya, bersama beberapa paku, sepatu -sepatu dan peron, di dalam toko tersebut. bahkan ruang untuk lalat sekalipun tidak ada. jika seorang pelanggan ingin sepatunya diperbaiki, ia terpaksa menunggu di luar toko."

"Toko itu terletak di lorong bukit," sambungnya, "Di puncaknya, ada istana milik seorang hartawan. namun tidak seorang pun bisa melihat toko ayahku dari balkon istana sang hartawan karena banyak tanaman yang tumbuh di sepanjang daerah itu. Makannya, ayahku tidak takut kalau pemilik istana mengetahui tempat usahanya, lalu mengusirnya dari sana, sang hartawan tidak pernah meninggalkan istananya. para pelayan bertugas membawa segala sesuatu yang diinginkan ke istana. mereka semua berjanji pada ayahku akan menjaga rahasianya dari majikan mereka dengan syarat, ia mau memperbaiki sepatu mereka."

"Ayahku bekerja terus tanpa gentar. orang - orang mengetahui, hasil reparasi sepatu ayahku begitu bagus sehingga terlihat seperti baru. karena itu, semakin banyak pula sepatu yang diantarkan padanya setiap hari. ia pun bekerja tanpa henti di sepanjang hari dan di separuh malam. kepada ibuku, ia berkata, 'besok, anak - anak masuk sekolah.' Ibuku membalas , 'lantas, bisakah kau sedikit bersantai dari semua pekerjaan ini?'." kata anak itu.

ketika sianak kembali ke kursinya, teman temannya masih tetap duduk tak bergerak. hal ini membuat Muhsin bertanya. "kenapa kalian tidak bertepuk tangan untuk teman kalian? tidakkah kalian menyukai ceritanya?"

" kami ingin mendengar sisahnya... "

" apakah ceritamu belum selesai? "

sianak kembali ke depan, melanjutkan ceritanya, "Sebelum lalu atau mungkin lebih, pekerjaan ayahku bertumpuk banyak sehingga ia tidak pulang kerumah, ibu memberi tahu kami kalau ia bekerja siang malam dan tidak bisa meninggalkan tokonya. tidak ada waktu baginya untuk keluar. sementara itu, sang hartawan duduk di balkonnya selama sepanjang hari dan semalam suntuk sambil makan pisang, jeruk, badam, dan kenari, membuang kulit dan batoknya melewati pagar balkon istana hingga mencapai lereng bukit. keesokan paginya, lereng bukit telah tertutupi oleh seluruh kulit dan batok sehingga para pelayan tidak bisa lagi menemukan kotak kerja ayahku di tengah - tengahnya. ia bekerja seperti biasa. mungkin, ia masih duduk di dalam kotaknya. sibuk bekerja, memperbaiki semua sepatu agar bisa selesai tepat waktu sehingga ia bisa segera pulang. tapi, menurutku, dia sudah meninggal di dalam sana."


Semua siswa bertepuk tangan saat anak kembali ke kursinya dan duduk dengan tenang. enam puluh mata membelalak bersinar - sinar, tapi Muhsin...

Muhsin mengajak si anak mendatangi kantor kepala sekolah. dalam perjalanan menuju kesana, ia bertanya, "benarkah kau memang berpendapat ayahmu sudah tiada?"

"Ayahku belum meninggal. aku berkata seperti itu agar ceritanya habis. jika tidak, ceritanya tidak akan pernah tamat. musim panas akan datang dalam waktu beberapa bulan lagi, dan matahari akan mengeringkan seluruh tumpukan kulit dan batok tersebut sehingga tidak akan terlalu berat bagi ayahku untuk menyingkirkannya dari bubungan. ia akan kembali kerumah."

Akhirnya, Muhsin pun tiba di kantor kepala sekolah, sambil memegang si anak, ia berkata kepada kepala sekolah, " saya memiliki anak jenius di kelas saya, ia luar biasa. suruhlah dia bercerita tentang ayahnya..."

"apakah cerita tentang Ayahmu itu?"

" tokonya kecil sekali, tapi ia sangat terampil. suatu hari, kemahsyurannya terdengar oleh pemilik istana, yang kemudian mengirim semua sepatu lamanya untuk di perbaiki dan dibuat seperti baru, seluruh pelayan di kerahkan untuk membawa sepatu - sepatu lama kedalam toko ayah yang kecil. mereka bekerja selam dua hari penuh untuk mengantar semua sepatu. begitu selesai, ayahku mendapati dirinya terhimpit di bawah tumpukan sepatu yang sangat tinggi. tidak ada cuku ruang di dalam toko untuk semua sepatu..."

Kepala sekolah memasukkan kedua jempolnya ke dalam saku - saku rompinya, merenung sejenak, lalu berujar, "Anak ini sinting. sebaiknya, kita mengirimnya ke sekolah lain."

Si anak berkata, "tapi, aku tidak sinting. pergilah ke istana sang hartawan dan periksalah sepatu - sepatunya. bapak akan menemukan cuilan - cuilan daging ayahku disana. barangkali, bapak akan menemukan mata dan hidungnya di sol salah satu sepatu itu. pergi saja kesana..."

Kepala sekolah menyela, "menurutku, anak ini sinting."

Muhsin membelanya. " ia tidak sinting, saya sendiri pernah membawa sepatu saya ke toko ayahnya untuk diperbaiki. terakhir kali kesana, mereka memberi ahu saya kalau dia sudah meninggal."

"Bagaiman meninggalnya?"

"dia sedang memulkul - mukul sebuah sol sepatu tua," ujar si anak. "Suatu hari ia memaku banyak paku besar kedalam sepatu tua agar benar - benar kuat. begitu selesai, ia baru menyadari, ia telah memaku jari - jarinya di antara sepatu dan landasan. bayangkan saja begitu kuatnya ayahku sehingga bisa memukul paku menembus landasan. tapi, ketika berusaha bangkit dari duduknya, ia tidak bisa bergerak. rupanya ia tertusuk langsung ke bantalan. orang - orang yang lewat tidak mau menolongnya, ia tetap berada di sana sehingga menghembuskan napas terakhir."

Kepala sekolah melihat lagi ke arah Muhsin yang berdiri di sebelah si anak, satu sama lain saling bersebelahan hingga keduanya seolah menyatu. Laki - laki itu menggeleng - gelengkan kepalanya beberapa kali tanpa berkata apa - apa. selanjutnya, ia kembali menduduki kursi kulitnya yang empuk, mulai membolak - balik kertas - kertasnya seraya sesekali melirik ke arah Muhsin dan si Anak.



Beirut, 1961
Ghassan Fayiz Kanafani

6 komentar:

  1. sangat menyentuh gan... trims sudah berbagi

    BalasHapus
  2. keren banget gan cerpennya :') jadi terharhu ane bacanya :')
    ditunggu cerpen selanjutnyaa :>

    BalasHapus
  3. sedih hiks ceritanya bikin mata berkaca-kaca :')

    BalasHapus
  4. wahh saran aja bro. kalo bisa di kasih variasi ex: bold underline .dll
    supaya ga monoton bro. kesanya polos banget panjang pula jadi bosen dluan wkwkwk
    btw nice share



    http://maniakucing.blogspot.com/

    BalasHapus
  5. keren banget gan cerpenya lumayan sedih di tunggu cerpen selanjutnya gan

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.